renungan

hidup adalah perjuangan,,maka berjuanglah untuk masa depan,tetap semangat & jangan pantang menyerah,,,!!!!!

PECAHAN KACA

Ketika aku trbangun..
Berdirilah aku di depan kaca..
Kupandang wajahku..
Aku pun teringat..
Tentang cerita dari negeri dongeng khayalanku..
Aku hidup untuk mencari jati diriku..
Beribu rintangan akan aku hadapi..
Tanpa tersadar tanganku menghantam kaca..
Meratapi nasib yg begitu malang..
Tapi,kupandang dengan jelas pecahan kaca itu..
Aku bertanya "apakah aku bagai pecahan kaca itu?"
Hati kecilku menjawab "iya..kamu bagai pecahan kaca itu,ketika mengenai tangan..akan sakit rasanya.."
Aku bertanya lagi "apa maksudmu?"
Hati kecilku menjawab "kamu adalah seorang yang sabar untuk menghadapi rintangan dalam hidupmu..tapi,disisi lain..kamu tidak seperti kaca itu"
Aku bertanya lagi "apa lagi maksudmu?"
Hati kacilku menjawab "kamu tidak akan mudah rapuh dan menyerah ketika kamu mendapat rintangan setiap saat..artinya di sisi lain kamu tidak akan seperti pecahan kaca itu"
Dan aku tersadar..
"Aku tidak akan seperti pecahan kaca yg rapuh.. Tapi aku akan seperti pecahan kaca yg tajam, Setajam semangatku"

                                        Post by: nisa

BUNGA LAYU YANG TERBUANG

Ketika dia tertawa,seperti bahagia hidupnya,
Tapi,ada 1 rahasia dari dirinya
Dia hanyalah seorang pemungut bunga layu yg hina di mata orang,
Dia hidup menyusuri jalan,tak tau arah.
Suatu hari,ada seorang ibu hamil bertanya "sedang apa kamu cah ayu?"
Gadis kecil itu menjawab "aku sedang memungut bunga layu bu"
Ibu itu brtnya lg "lho,buat apa cah ayu?"
Gadis kecil menjawab "untuk teman hidup untuk menyusuri jalan tiada arah"
Ibu itu bertanya lagi "namamu siapa cah ayu?"
Gadis kecil itu menjawab "namaku BUNGA"
Ya,dialah bunga.. Bunga layu yg terbuang..
Ibunya sungguh tega ,membuang gadis itu di dekat taman yg pnuh bunga di sore hari
Dan..anak itu dinamakan BUNGA
Tapi,orang2 memanggilnya BUNGA LAYU YANG TERBUANG.

                                         Post by: nisa

PATAHNYA SAYAP KUPU-KUPU

Kulihat matahari yg semakin tenggelam..
Kulihat awan semakin kelabu..
Dan kulihat sepasang kupu2..
Aku terkejut..
Kupu2 berwarna emas dan hijau terbang bersamaan..
Tapi,betapa malang kupu2 emas itu..
Hidup dengan 1 sayap kanannya..
Yang lebih mengejutkan lagi.
Mengapa kupu2 itu bisa terbang di langit penuh canda?
Dan ternyta.. Diatasny nampak kupu2 hijau yg suka rela membawanya terbang..
Kupu2 hijau ingin membuat kupu2 emas menikmati indahnya dunia dari atas sana..
Penuh tawa diantara mereka..
Seakan tak terjadi apa2..

                                        Post by: nisa

Macam-macam Jiwa dalam Al-Qur'an


Imam Ibnul Qayyim mengatakan bahwa jiwa adalah satu bila dilihat dari sudut dzatnya, dan tiga bila dilihat dari sudut sifatnya. Di dalam Al-Qu’an yang mulia itu telah menjelaskan tentang jiwa dengan tiga sifat: yaitu muthma’innah, ammarah bis su’ dan lawwamah (yang suka mencela).

 

Imam Ibnul Qayyim berkata, “Jiwa bila tenang karena Allah Subhaanahu wata’ala, tenteram karena berdzikir kepada-Nya, tunduk kepada-Nya, rindu kepada perjumpaan dengan-Nya, akrab dengan kedekatan-Nya, maka ia adalah jiwa yang muthma’innah. Ialah jiwa yang disebutkan Allah Subhaanahu wata’ala ketika seseorang wafat, sebagaimana dalam firman-Nya,

(يَـٰٓأَيَّتُہَا ٱلنَّفۡسُ ٱلۡمُطۡمَٮِٕنَّةُ (٢٧)ٱرۡجِعِىٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً۬ مَّرۡضِيَّةً۬ (٢٨

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.” (Al-Fajr: 27-28)


Muthma’innah

Menurut Imam Ibnul Qayyim hakikat muthma’innah adalah ketenangan dan kestabilan, yaitu jiwa yang merasa tenang kepada Tuhannya, taat kepada-Nya dan perintah-Nya, serta dzikir kepada-Nya dan tidak meras tenang kepada yang lain-Nya. Dengan demikian jiwa itu telah mencapai ketenangan dengan cinta-Nya, penghambaan dan berdzikir kepada-Nya. Ia juga tenteram dengan perintah-Nya, larangan-Nya dan janji-Nya.

Ia juga tenteram dengan pembenaran terhadap hakikat Asma’-asma’ dan sifat-sifat Allah Subhaanahu wata’ala. Ia juga tenteram dengan keridhaannya mengakui Allah Subhaanahu wata’alasebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai Rasulullah.

Ia juga tenteram dengan Qadha’ dan Qadar-Nya. Ia juga tenteram dengan kecukupan, kelayakan, dan jaminan hidup dari-Nya. Ia juga tenteram dengan keyakinan bahwa Allah Subhaanahu wata’ala satu-satunya Rabbnya, Sesembahannya, Rajanya dan Pemilik segala urusan, dan tempat kembalinya. Dan bahwasanya tidak ada rasa “tidak butuh” kepada-Nya walaupun sekejap mata.”

Amarah Bis su’

Imam Ibnul Qayyim menjelaskan tentang jiwa amarah bis su’ , jiwa ini bertentangan dengan jiwa muthma’innah. Jiwa amarah bis su’ yang memerintahkan pemiliknya kepada hawa nafsu berupa syahwat kesesatan dan mengikuti yang batil, jiwa seperti ini merupakan sumber kejelekan. Jika dituruti, maka jiwa ini akan menyeret seseorang pada perbuatan jelek dan segala perkara dibenci.

Imam Ibnul Qayyim berkata, “Nafsu ammarah bis su’ dikatakan ‘ammarah’ dan bukan ‘amirah’ karena banyaknya perintah dari nafsu tersebut, dan bahwa nafsu yang demikian telah menjadi adat dan ciri khasnya, kecuali apabila Allah Subhaanahu wata’ala merahmatinya dan membuatnya menjadi suci yang menyuruh pemiliknya untuk berbuat baik, dan hal tersebut termasuk rahmat Allah bukan dari rahmat nafsu, karena ia sendiri pada hakikatnya menyuruh kepada keburukan. Karena nafsu pada asalnya diciptakan dalam keadaan bodoh dan sesat, kecuali yang mendapat rahmat Allah.

Lawwamah

Imam Ibnul Qayyim berkata, “Kata lawwamah ini, ulama berbeda pendapat tentang sumber asal kata pokoknya, apakah ia berasal dari kata talawwum (kebimbangan), atau kata laum (tercela). Pernyataan salaf berkisar antara dua makna ini.

Sa’id bin Jubair berkata, ‘Aku bertanya kepada Ibnu Abbas, ‘Apakah nafsu lawwamah itu?’ Ibnu Abas menjawab, ‘Nafsu lawwamah adalah nafsu yang tercela.’

Mujahid berkata, ‘Nafsu lawwamah adalah nafsu yang menyesali segala yang terjadi di masa lalu dan mencela dirinya sendiri.’

Qatadah berkata, ‘Nafsu lawwamah adalah nafsu yang jahat.’

Ikrimah berkata, ‘Nafsu lawwamah adalah nafsu yang mencela atas perbuatan baik dan buruk.’

Atha’ dari Ibnu Abbas dia berkata, ‘Nafsu lawwamah adalah setiap nafsu yang mencela dirinya sendiri pada Hari Kiamat, yang mencela dirinya sendiri atas perbuatan baik karena tidak menambahkannya, dan mencela dirinya atas perbuatan buruk karena tidak kembali insaf dari keburukannya.’

Imam Ibnul Qayyim mengatakan bahwasanya jiwa kadangkala bersifat ammarah, kadangkala bersifat lawwamah, dan kadangkala bersifat muthma’innah. Bahkan dalam satu hari dan satu saat bisa terjadi yang ini dan itu. Dan yang menguasai adalah kondisinya yang paling dominan. Kondisi nafsu yang menjadi muthma’innahadalah merupakan sifat yang terpuji baginya. Dan kondisi nafsu menjadi ammarah bis su’ merupakan sifat yang tercela baginya. Nafsu itu kadangkala bersifat lawwamah yang terbagi menjadi terpuji dan tercela sesuai dengan sesuatu yang dicelanya.

Sumber : OBAT HATI, Antara Terapi Ibnul Qayyim & Ilusi Kaum Sufi, Ibnu Qayyim al-Jauziyah

Macam-macam Cinta


 

Kajian – Imam Ibnul Qayyim menjelaskan tentang macam-macam cinta dalam sebuah majelis ilmu.

Yang paling utama dan paling tinggi adalah cinta kepada Allah Subhaanahu wata’ala, (dengan niat) karena Allah dan untuk Allah. cinta ini mengharuskan cinta kepada sesuatu yang dicintai AllahSubhaanahu wata’ala dan mengharuskan cinta kepada Allah dan rasulNya.

Di dalam shahih Al Bukhari dan Muslim dari Anas Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

‘Ada tiga perkara, barangsiapa terdapat dalam dirinya ketiga perkara itu, dia pasti merasakan manisnya iman, yaitu Allah dan rasul-Nya lebih dicintainya daripada yang lain, mencintai seseorang tiada lain hanya karena Allah, dan tidak mau kembali kepada kekafiran setelah diselamatkan oleh Allah darinya, sebagaimana dia tidak mau kalau dicampakkan ke dalam neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Syaikhul Islam rahimahullah menyebutkan, bahwa sebab-sebab yang dapat mendatangkan kecintaan-Nya ada sepuluh macam:

Pertama: Membaca Al-Qur’an dengan menghayati dan memahami arti dan apa yang dimaksudkannya.

Kedua: Mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan melakukan sunah setelah melakukan fardhu.

Ketiga: Selalu berdzikir pada setiap keadaan, dengan lisan, hati, perbuatan dan perilaku. Maka, kecintaan Allah kepadanya sebesar kecintaannya kepada Allah.

Keempat: Mendahulukan apa yang dicintai Allah atas apa yang disenangi dirinya sendiri pada saat hawa nafsu menguasai.

Kelima: Membiasakan hati untuk selalu memahami dan menghayati nama-nama dan sifat-sifatNya, juga selalu menghadirkan diri dalam masalah ma’rifat (pengetahuan) ini.

Keenam: Selalu mengakui dan bersyukur atas kebaikan dan nikmat-nikmatNya, baik yang zhahir maupun yang batin.

Ketujuh: Inilah yang paling mengagumkan, yaitu berendah hati di hadapan-Nya.

Kedelapan: Berkhalwat (hubungan batin dengan Allah) pada waktu turunnya Tuhan dan membaca kitab-Nya, kemudian menutupnya dengan beristigfhar dan bertaubat.

Kesembilan: Berkumpul bersama orang-orang yang cinta Allah dengan kejujuran dan selalu mengambil hikmah dari perkataan mereka. Tidak berbicara kecuali dengan perkataan yang membawa maslahat dan yang diyakininya dapat membawa peningkatan dirinya dan dapat mendatangkan manfaat bagi orang lain.

Kesepuluh: Menjauhi segala sebab yang dapat menghalangi antara hati dan Allah Azza wa Jalla.

Seorang hamba meninggalkan jiwanya, bersambung dengan dzikir kepada Rabb, mendirikan hak-hakNya. Dia melihat kepadaNya dengan hatinya. Hatinya membakar cahaya haibah. Minumannya bersih dari cawan cintanya. Maka Dzat Yang Maha perkasa membuat tabir keghaiban untuknya.

Jika dia berbicara, maka dia berbicara dengan Allah. Jika dia berkata, maka dia berkata tentang Allah. Jika dia bergerak, maka bergerak dengan perintah Allah. Jika diam, maka diam bersama Allah. Maka dia selalu denagn Allah, untuk Allah, dan bersama Allah.

Jenis cinta yang lainnya adalah cinta karena keserasian dan kesesuaian dalam satu tariqat, agama, mazhab, aliran, kerabat, produksi atau tujuan bersama.

Di antara jenisnya adalah cinta untuk mencapai tujuan dari yang dicintai, baik dari sisi wibawa, atau harta, atau pengajaran atau nasihatnya, atau menunaikan hasrat kepadanya. Cinta yang bertendensi ini akan hilang bersama hilangnya faktor tendensi yang menuntutnya. Karena sesungguhnya orang yang mencintai seseorang karena (tendensi) sesuatu, maka dia akan berpaling darinya setelah tendensi sesuatu hilang dari orang tersebut.

Sedangkan cinta karena kecocokan dan kesamaan antara orang yang mencintai dengan orang yang dicintai, maka ia adalah cinta yang lazim, dan tidak akan hilang kecuali karena ada sesuatu yang menghilangkannya. Cinta isyq (cinta buta) adalah termasuk dalam jenis ini. Sesungguhnya ia adalah keindahan yang dipancarkan oleh ruh, pencampuran jiwa. Waswas, kekhawatiran-kekhawatiran, kesibukan hati, dan kehancuran dari jenis cinta adalah tidak muncul sebagaimana ia muncul dalam al-isyq.”

Bila penyebab dari cinta isyq (cinta buta) itu adalah apa yang anda jelaskan berupa terjalinnya hubungan, dan kecocokan jiwa, lantas kenapa cinta ini tidak selamanya muncul dari dua pihak, bahkan kebanyakan hanya dari salah satu pihak saja. Bila penyebab dari cintaisyq (cinta buta) itu adalah terjalinnya hubungan, dan kecocokan jiwa, maka seharusnya ia timbul dari kedua belah pihak?

Imam Ibnul Qayyim menjelaskan tentang cinta isyq (cinta buta) bahwa sesungguhnya penyebab bertepuk sebelah tangan dalam cinta isyq (cinta buta) ini adalah karena tidak terpenuhinya syarat, atau adanya penghalang. Dan perkara tidak adanya respon cinta dari pihak yang lain pasti adalah karena salah satu sebab berikut,

Terdapat dalam cinta itu sendiri. Ia pasti hanya karena cinta yang kebetulan bukan cinta yang sejati. Dalam cinta kebetulan (cinta monyet pent.) seperti ini tidak harus ada timbal balik utuh antara dua pihak, bahkan hal itu bisa jadi membuat lari orang yang dicintai.Penghalang yang menghalangi pecinta untuk mencintai orang yang dikasihinya, baik berupa penciptaan, akhlak, petunjuk, tingkah laku, bentuk tubuhnya, atau lainnya.Penghalang yang ada dalam diri orang yang dicintai, yang merintanginya untuk merespon baik cinta dari orang yang mencintainya. Seandainya hal itu tidak ada dalam dirinya, maka dia pasti menyambut cinta dari pihak yang mencintainya.

Jika penghalang-penghalang tersebut hilang, dan cintanya adalah sejati, maka hal itu tidak mungkin akan ada melainkan dari dua pihak. Seandainya tidak ada penghalang berupa takkabur, hasad, cinta kepemimpinan dan permusuhan terhadap orang-orang kafir, maka pasti semua rasul itu akan mereka cintai melebihi cinta mereka terhadap diri mereka sendiri, keluarga dan harta bendanya. Dan setelah penghalang ini hilang dari pengikut para rasul, maka para rasul pun menjadi orang-orang yang paling dicintai oleh para pengikutnya melebihi cinta mereka kepada diri sendiri, keluarga dan harta bendanya.”

Kami bertanya, “Cinta isyq (cinta buta), makna dan penyebabnya telah jelas bagi kami berdasarkan penjelasan imam tentang itu. Namun penjelasan anda seolah-olah mengisyaratkan bahwa cintaisyq (cinta buta) ini tidak ada obatnya?”

OBAT HATI, Antara Terapi Ibnul Qayyim & Ilusi Kaum Sufi, Ibnu Qayyim al-JauziyahFATHUL MAJID, Penjelasan Kitab Tauhid, Syaikh Abdurrahman Hasan Alu Syaikh.

Ingin Dicintai Allah SWT


Andai di dunia ini tidak ada cinta, maka hidup akan serasa gersang, hampa, dan tidak ada dinamika. Cinta bisa membuat sesuatu yang berat menjadi ringan, yang sulit menjadi sederhana, permusuhan menjadi perdamaian, dan yang jauh menjadi dekat. Itulah gambaran kekuatan cinta.

Cinta, dilihat dari sudut manapun selalu menarik untuk dibahas. Sejarah mencatat, sejumlah seniman, teolog, sampai filsuf membicarakan cinta dari berbagai perspektifnya, baik dalam bentuk roman, puisi, syair, bahkan sampai dalam bentuk tulisan ilmiah yang bernuansa teologis, fenomenologis, psikologis, ataupun sosiologis.

Filsuf sekaliber plato bahkan pernah mengatakan:

Siapa yang tidak terharu oleh cinta, berarti berjalan dalam gelap gulita.


Pernyataan ini menggambarkan betapa besar perhatian plato pada masalah cinta, sampai-sampai ia menyebut orang yang tidak tertarik untuk membicarakannya sebagai orang yang berjalan dalam kegelapan

Peranan cinta dalam kehidupan tidak diragukan lagi pentingnya. Cinta diyakini sebagai dasar dari perdamaian, keharmonisan, kententraman, kebahagiaan, bahkan kebangkitan peradaban. Namun, apa sesungguhnya cinta itu? Diakui, problem yang dihadapi saat membicarakan cinta biasanya adalah persoalan definisi. Belum pernah ditemui suatu rumusan tentang cinta yang singkat, padat dan mewakili pemahaman akan hakikat cinta secara tepat.

Jalauddin Rumi pernah mengatakan bahwa cinta itu misteri, tidak ada kata-kata yang bisa mewakili kedalamannya.

Cinta tak dapat termuat dalam pembicaraan atau pendengaran kita,
Cinta adalah sebuah samudera yang kedalamannya tak terukur…
Cinta tak dapat ditemukan dalam belajar dan ilmu pengetahuan, buku-buku dan lembaran-lembaran halaman.
Apapun yang orang bicarakan itu, bukanlah jalan para pecinta.
Apapun yang engkau katakan atau dengar adalah kulitnya;
Intisari cinta adalah misteri yang tak dapat kau buka!
Cukuplah! Berapa banyak lagi kau akan lengketkan kata-kata di lidahmu?
Cinta memiliki banyak pernyataan melampaui pembicaraan…


Oleh sebab itu, kita tidak akan mendefinisikan cinta, karena khawatir mereduksi kedalamannya. Biarlah cinta berbicara dlam perbuatan kita. Di sini, kita akan mencoba mencermati unsur-unsur yang selalu ada dalam cinta.

Eric fromm, murid kesayangannya Sigmund Freud menyebutkan empat unsur yang harus ada dalam cinta, yaitu:

Care (perhatian). Cinta harus melahirkan perhatian pada objek yang dicintai. Kalau kita mencintai diri sendiri, maka kita akan memperhatikan kesehatan dan kebersihan diri. Kalau kita mencintai orang lain, maka kita akan memperhatikan kesulitan yang dihadapi orang tersebut dan akan berusaha meringankan bebannya. Kalau kita mencintai Allah, kita akan benar-benar memperhatikan hal-hal apa saja yang diridhai atau dibenci oleh-Nya.Responsibility (tanggung jawab). Cinta harus melahirkan sikap bertanggungjawab terhadap objek yang dicintai. Orang tua yang mencintai anaknya, akan bertanggung jawab akan kesejahteraan material, spiritual, dan masa depan anaknya. Suami yang mencintai isterinya, akan bertanggung jawab akan kesejahteraan dan kebahagiaan rumah tangganya. Karyawan yang mencintai perusahaannya, akan bertanggung jawab pada kemajuan perusahaannya. Orang yang mencintai Tuhannya, akan bertanggung jawab untuk melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Itulah Responsibility.Respect (hormat). Cinta harus melahirkan sikap menerima objek yang dicintai apa adanya. Kelebihannya kita syukuri, kekurangannya kita terima dan perbaiki, sehingga kita selalu berikhtiar agar tidak mengecewakannya. Inilah yang disebut respect.Knowledge (pengetahuan). Cinta harus melahirkan minat untuk memahami seluk beluk objek yang dicintai. Kalau kita mencintai seorang wanita atau pria untuk dijadikan isteri atau suami, kita harus berusaha memahami kepribadian, latar belakang keluarga, minat, dan ketaatan beragamanya. Kalau kita mencintai Tuhan, maka harus berusaha memahami ajaran-ajaran-Nya.

Kalau empat unsur ini ada dalam kehidupan kita, Insya Allah hidup ini akan bermakna. Apapun yang kita lakukan, kalau berbasiskan cinta pasti akan terasa ringan. Karena itu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallampernah bersabda,

“Tidak sempurna iman seseorang kalau dia belum mencintai orang lain sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri”. “Cintai olehmu makhluk yang ada di muka bumi, pasti Allah akan mencintaimu”. (H.R. Muslim)


Cinta manusia kepada Allah adalah puncak cinta manusia yang bening dan jernih. Cinta sebagai mediator untuk mengikat atau menghubungkan hamba dengan Allah. Adanya kerinduan ingin bertemu dengan Allah dan kerinduan kepada-Nya tidak hanya berkomunikasi dalam bentuk shalat, do’a, dzikir, dan membaca Al Qur’an saja, melainkan seluruh tingkah laku dan tindakannya ditujukan kepada Allah yang satu “La ilaha illallah”. Rasulullah adalah orang yang patut dijadikan uswah atau teladan dalam mengaktualisasikan cinta kepada Allah.

“Katakanlah: jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang” (Q.S. Ali Imran [3]:31)


Cintanya orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya terekspresikan dalam bentuk ketaatan, penghormatan, dan pengagungan kepada-Nya. Tidak salah kita mencintai harta, wanita, kedudukan, kekayaan, orang tua, dan anak. Yang salah adalah cinta kita terhadap mereka sampai melupakan sang Khalik.

“Katakanlah: ‘jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.:’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (Q.S. At Taubah [9]: 24)


Orang yang cinta kepada Allah menjadi tidak sabar dan resah bila tidak memenuhi kehendaknya. Tidak bisa tenang bersama yang lain kecuali bersama Allah, tidak menyebut-nyebut yang lain kecuali menyebut-nyebut dan mengingat-ingat-Nya.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (Q.S. Ali Imran[3]: 190-191)


Ketika seseorang dipenuhi rasa cinta pada Allah, dengan penuh kesadaran ia akan menerima ketentuan Allah, baik suka ataupun duka. Bila sudah demikian keadaan seorang hamba, Allah pasti akan memberikan percikan-percikan cahaya, memberikan ketenangan ke dalam hatinya karena cinta Allah yang  maha Rahman dan Rahim, Yang Maha memberikan cahaya, dan cahanya-Nya meliputi alam semesta, “cahaya di atas cahaya”.

Menurut Ibnu Sina, bila seseorang sudah mencapai klimaks cinta kepada Allah, maka akan bersemayam di dalam dirinya sifat-sifat berikut:

Selalu bergembira dan mudah tersenyum bila bertemu sesama.Pemurah, sehingga tidak berbekas lagi kecintaan pada duniaBerani, karena yakin Allah sebagai tempat berlindungPemaaf, sebagai konsekuensi dari hatinya yang sudah dipenuhi cinta kepada AllahSelalu lapang dada, karena melihat keagungan Allah yang terbentang di alam luas, melihat substansi dari setiap fenomena-fenomena yang tersaksikan, sehingga menimbulkan kecintaan yang semakin mendalam kepada Allah. Di manapun berada, ia selalu merasakan bahwa Allah selalu melihatnya dan selalu hadir bersamanya. Ke manapun ia menghadap, di situ ada “Wajah Allah”.

“Dan kepunyaan Allah lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah maha luas (rahmat-Nya) lagi maha mengetahui.” (Q.S. Al Baqarah [2]: 115)

“Apabila Aku mencintainya, maka Aku merupakan pendengaran yang ia pergunakan untuk mendengar, Aku merupakan penglihatan yang ia pergunakan untuk melihat, Aku merupakan tangan yang ia pergunakan untuk memegang, dan Aku merupakan kaki yang ia pergunakan untuk berjalan. Seandainya ia memohon kepada-ku niscaya Aku mengabulkannya, seandainya ia berlindung diri kepada-Ku niscaya Aku melindunginya.” (H.R. Bukhari)


Cinta kepada Allah menjadi sumber energi kehidupannya dan mampu menempatkan cintanya kepada yang lain secara proporsional dengan berada dalam koridor yang dicintai Allah. Hal tersebut akan terefleksikan dengan mencintai sesama manusia, flora, fauna, bahkan pada semua makhluk Allah di alam semesta.

“Tidak sempurna iman seseorang kalau ia belum mencintai orang lain sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Cintailah olehmu makhluk yang ada di muka bumi, pasti Allah akan mencintaimu.” (H.R. Muslim)


Cinta kepada Allah dan cinta kepada seluruh makhluk yang bersumber dan bermuara pada kecintaan terhadap Allah Subhaanahu wata’ala sebagai sumber segala sesuatu, itulah yang dinamakan cinta sejati. Demikian nasihat Jalaludin Rumi.

Supremasi kebahagiaan tertinggi adalah kalau kita mampu mencintai orang lain denga tulus tanpa pamrih, mencintai diri sendiri secara proporsional, mencintai Allah Subhaanahu wata’ala dengan penuh loyalitas, dan selalu merasa dicintai-Nya. Inginkan hidup kita bermakna?

[Agenda Percikan Iman 2004, Aam Amiruddin]

Selalu Menata Hati




“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (Q.S. Al-Israa'[17]:36)


Betapa indahnya sekiranya kita memiliki kalbu yang senantiasa tertata, terpelihara, dan terawat dengan sebaik-baiknya. Ibarat taman bunga yang pemiliknya mampu merawatnya dengan penuh kesabaran dan ketelatenan. Alur-alur penanamannya tertata rapih. pengelompokan jenis dan warna bunganya terkombinasi secara artistik. Yang ditanam hanya tanaman bunga yang memiliki warna-warni yang indah atau bahkan yang menyemerbakkan keharuman yang menyegarkan.

Rerumputan liar yang tumbuh di bawahnya senantiasa disiangi. Parasit ataupun hama yang akan merusak batang dan daunnya dimusnahkan. Tak lupa setiap hari disiraminya dengan merata, dengan air yang bersih. Tak akan dibiarkan ada dahan yang patah atau ranting yang mengering.

Walhasil, tanahnya senantiasa gembur, tanaman bunga pun tumbuh dengan subur. Dedaunannya sehat menghijau. Subhanallah, bila pagi tiba, manakala sang matahari naik sepenggalan, dan saat titik-titik embun yang begelayutan di ujung dedaunan menangkap kilatan cahayanya, bunga-bunga itu, dengan aneka warnanya, mekar merekah. Wewangian harumnya semerbak ke seantero taman, tak hanya tercium oleh pemiliknya, tetapi juga oleh siapa pun yang kebetulan berlalu dekat taman. Sungguh, alangkah indah dan mengesankan.

Begitupun kalbu yang senantiasa tertata, terpelihara, serta terawat dengan sebaik-baiknya. Pemiliknya akan senantiasa merasakan lapang, tenang, tenteram, sejuk, dan indahnya hidup di dunia ini. Semua ini akan tersemburat pula dalam setiap gerak-geriknya, perilakunya, tutur katanya, sunggingan senyumannya, tatapn matanya, riak air mukanya, bahkan diamnya sekalipun.

Orang yang hatinya tertata dengan baik tak pernah merasa resah gelisah, tak pernah bermuram durja, tak pernah gundah gulana. Kemana pun pergi dan di mana pun berada, ia senantiasa mampu mengendalikan hatinya. Dirinya senantiasa berada dalam kondisi damai dan mendamaikan, tenang dan menenangkan, tenteram dan menenteramkan. Hatinya bagai embun yang menggelayut di dedaunan di pagi hari, jernih bersinar, sejuk, dan menyegarkan. Hatinya tertambat bukan kepada barang-barang yang fana, melainkan selalu ingat dan merindukan Dzat yang Maha Memberi Ketenteraman, Allah Azza wa Jalla.

Ia yakin dengan keyakinan yang amat sangat bahwa hanya dengan mengingat dan merindukan Allah, hanya dengan menyebut nama-Nya setiap saat, meyakini dan mengamalkan ayat-ayat-Nya, maka hatinya menjadi tenteram. Tantangan apa pun yang dihadapinya, seberata apa pun, diterimanya dengan ikhlas. Dihadapinya dengan sungginga senyum dan lapang dada. Baginya tak ada masalah yang tak dapat terselesaikan. Baginya tak ada masalah dengan masalah sebab yang menjadi masalah hanyalah caranya yang salah dalam menyikapi masalah.

Adalah kebalikannya dengan orang yang berhati semrawut dan kusut masai. Ia bagaikan kamar mandi yang kumuh dan tak terpelihara. Lantainya penuh dengan kotoran. Lubang WCnya masih belepotan sisa kotoran. Dindingnya kotor dan kusam. Gayungnya bocor, kotor, dan berlendir. Pintunya tak berselot. Kerannnya susah diputar dan air pun sulit untuk mengalir. Tak ada gantungan. Baunya membuat setiap orang yang menghampirinya menutup hidung. Sudah pasti setiap orang enggan memasukinya. Kalaupun ada yang sudi memasukinya, pastilah lantaran tak ada pilihan dan dalam keadaan yang sangat terdesak. Itu pun seraya menutup hidung dan menghindarkan pandangan sebisa-bisanya.

Begitupun keadaannya dengan orang yang berhati kusam. Ia senantiasa tampak resah dan gelisah. Hatinya dikotori dengan buruk sangka, dengan kesumat, licik, tak mau kompromi, mudah tersinggung, tak senang melihat orang lain berbahagia, kikir, dan lain-lain penyakit hati yang terus-menerus menumpuk, hingga sulit untuk dihilangkan.

Sungguh, orang yang berhati busuk seperti itu akan mendapatkan kerugian yang berlipat-lipat. Tidak saja hatinya yang selalu gelisah, namun juga orang lain yang melihatnya pun akan menaruh rasa jijik dan tidak akan menaruh hormat sedikit pun jua. Ia akan dicibir dan dilecehkan orang. Ia akan tidak disukai, sehingga sangat mungkin akan tersisih dari pergaulan. Terlepas siapa orangnya. Adakah ia orang berilmu, berharta banyak, pejabat, atau siapa pun; kalau berhati busuk, niscaya akan mendapat celaan dari masyarakat yang mengenalnya. Derajatnya pun mungkin akan sama atau, bahkan, lebih hina daripada apa yang dikeluarkan dari perutnya.

Bagi orang yang demikian, selain derajat kemuliaannya akan jatuh di hadapan manusia, juga di hadapan Allah. Ini dikarenakan hari-harinya selalu diwarnai dengan aneka perbuatan yang mengandung dosa. Allah tidak akan pernah berlaku aniaya terhadap makhluk-makhluknya. Sesungguhnyalah apa yang didapatkan seseorang itu, tidak bisa tidak, merupakan buah dari apa yang diusahakannya.

وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَـٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ (٣٩) وَأَنَّ سَعۡيَهُ ۥ سَوۡفَ يُرَىٰ (٤٠) ثُمَّ يُجۡزَٮٰهُ ٱلۡجَزَآءَ ٱلۡأَوۡفَىٰ (٤١)

“Dan bahwasanya manusia tidak akan memperoleh (sesuatu), selain dari apa yang telah diusahakannya. Dan bahwasanya kelak akan diperlihatkan (kepadanya), kemudian akan diberikan balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna,” (Q.S. an-Najm[53]: 39-41)


Kebaikan yang ditunaikan dan kejahatan ynag diperbuat seseorang pastilah akan kembali kepada pelakunya. Jika berbuat kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala sesuai takaran yang telah dijanjikan-Nya. Sebaliknya, jika berbuat kejahatan, niscaya ia akan mendapatkan balasan siksa sesuai dengan kadar kejahatan yang dilakukannya. Sedangkan kebaikan dan kejahatan tidaklah bisa berhimpun dalam satu kesatuan.

Orang yagn hatinya tertata rapih adalah orang yang telah berhasil merintis jalan ke arah kebaikan. Ia tidak akan tergoyahkan dengan aneka rayuan duniawi yang tampak menggiurkan. Ia akan melangkah pada jalan yang lurus. Dititinya tahapan kebaikan itu hingga mencapai titik puncak. Sementara itu, ia akanberusaha sekuat-kuatnya untuk memlihara dirinya dari sikap riyaujub, dan perilaku rendah lainnya.

Oleh karenanya, surga sebagai sebaik-baik tempat kembali, tentulah telah disediakan bagi kepulangannya ke yaumil akhir kelak. Bahkan, ketika hidup di dunia yang singkat ini pun ia akan menikmati buah dari segala amal baiknya.

Dengan demikian, sungguh betapa beruntungnya orang yang senantiasa bersungguh-sungguh menata hatinya karena berarti ia telah menabung aneka kebaikan yang akan segera dapat dipetik hasilnya dunia akhirat. Sebaliknya, alangkah malangnya orang yang selama hidupnya lalai dan membiarkan hatinya kusut masai dan kotor. Jangankan di akhirat kelak, bahkan ketika hidup di dunia pun nyaris tidak akan pernah merasakan nikmatnya hidup tenteram, nyaman, dan lapang.

Marilah kita senantiasa melatih diri untuk menyingkirkan segala penyebab yang potensial bisa menimbulkan ketidaknyamanan di dalam hati. Dengan hati yang nyaman, indah, dan lapang, niscaya akan membuat hidup ini terasa damai karena berseliwernya aneka masalah sama sekali tidak akan pernah membuat dirinya terjebak dalam kesulitan hidup karena selalu mampu menemukan jalan keluar terbaiknya, dengan ijin Allah. Insya Allah!

[Bening Hati, K.H. Abdullah Gymnastiar & Basyar Isya]

Memperindah Hati

Setiap manusia tentulah sangat menyukai dan merindukan keindahan. Banyak orang menganggap keindahan adalah pangkal dari segala puji dan harga. Tidak usah heran kalau banyak orang memburunya. Ada orang yang berani pergi beratus bahkan beribu kilometer semata-mata untuk mencari suasana pemandangan yang indah. Banyak orang rela membuang waktu untuk berlatih mengolah jasmani setiap saat karena sangat ingin memiliki tubuh yang indah. Tak sedikit juga orang berani membelanjakan uangnya berjuta bahkan bermilyar rupiah karena sangat rindu memiliki rumah atau kendaraan mewah.

قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّٮٰهَا (٩) وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّٮٰهَا (١٠)

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS asy-Syams [91]: 9-10)


Akan tetapi, apa yang terjadi? Tak jarang kita menyaksikan betapa terhadap orang-orang yang memiliki pakaian dan penampilan yang mahal dan indah, yang datang ternyata bukan penghargaan, melainkan justru penghinaan. Ada juga orang yang memiliki rumah megah dan mewah, tetapi bukannya mendapatkan pujian, melainkan malah cibiran dan cacian. Mengapa keindahan yang tadinya disangka akan mengangkat derajat kemuliaan malah sebaliknya, menggelincirkan pemiliknya ke dalam jurang kehinaan? Jawabnya, karena sebagian besar orang terpesona hanya terhadap keindahaan lahir belaka.

Padahal ketahuilah, sesungguhnya ada satu keindahan yang kalau dimiliki, meski sesederhana apa pun harta yang digenggam dan serendah apa pun kedudukan yang diemban, niscaya kita akan menjadi orang yang benar-benar bermutu, berharga, dan terpuji. Banyak orang mengurus keindahan lahir, padahal kunci keindahan yang sesungguhnya adalah jika seseorang merawat serta memperhatikan kecantikan dan keindahan hati. Inilah pangkal kemuliaan yang sebenarnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihiwasallam pakaiannya tidak bertabur bintang penghargaan, tanda jasa, dan pangkat. Akan tetapi, demi Allah, sampai saat ini tidak pernah berkurang kemuliaannya. Rasulullah tidak menggunakan singgasana dari emas yang gemerlap ataupun memiliki rumah yang megah dan indah. Namun demikian, sampai detik ini sama sekali tidak pernah luntur pujian dan penghargaan terhadapnya, bahkan hingga kelak datang akhir zaman. Apakah rahasianya? Ternyata semua itu dikarenakan Rasulullah adalah orang yang sangat menjaga mutu keindahan dan kesucian hatinya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihiwasallam bersabda, “lngatlah, dalam tubuh manusia itu ada ‘segumpal daging. Kalau segumpal daging itu baik, maka akan baiklah seluruh tubuhnya. Bila rusak, niscaya akan rusak pula seluruh tubuhnya. Segumpal daging itu bernama kalbu!” (HR Bukhari dan Muslim)

Boleh saja kita memakai segala apa pun yang indah-indah. Namun demikian kalau tidak memiliki hati yang indah, demi Allah tidak akan pernah ada keindahan yang sebenarnya. Karenanya, hendaknya jangan terpedaya oleh keindahan dunia. Lihatlah, begitu banyak wanita malang yang tidak mengenal moral dan harga diri. Mereka pun tidak kalah indah dan molek wajah, tubuh, ataupun penampilannya. Kendatipun begitu, mereka tetap diberi oleh Allah aneka asesoris duniawi yang indah dan melimpah.

Ternyata segala asesoris duniawi dan kemewahan itu bukanlah tanda kemuliaan yang sesungguhnya karena orang-orang yang rusak dan durjana sekalipun diberi aneka kemewahan yang melimpah ruah oleh Allah. Kunci bagi orang-orang yang ingin sukses, yang ingin benar-benar merasakan lezat dan mulianya hidup, adalah orang yang sangat memelihara serta merawat keindahan dan kesucian kalbunya.

Imam al-Ghazali menggolongkan hati ke· dalam tiga golongan, yakni:

hati yang sehat (qalbun shahih),hati yang sakit (qalbun maridh), dandari hati yang mati (qalbun mayyit).

Seseorang yang memiliki hati sehat tak ubahnya memiliki tubuh yang sehat. Ia akan berfungsi optimal. la akan mampu memilih dan memilah setiap rencana atas suatu tindakan, sehingga setiap yang akan diperbuatnya benarbenar sudah melewati perhitungan yang jitu berdasarkan hati nurani yang bersih.

Orang yang paling beruntung karena memiliki hati yang sehat adalah orang yang dapat mengenal Allah Azza wa Jalla dengan baik. Semakin cemerlang hatinya, maka akan semakin mengenal Dia, Penguasa jagat raya alam semesta ini. Ia akan memiliki mutu pribadi yang begitu hebat dan mempesona. Tidak akan pernah menjadi ujub dan takabur ketika mendapatkan sesuatu, namun sebaliknya akan menjadi orang yang tersungkur bersujud. Semakin tinggi pangkatnya, akan membuatnya semakin rendah hati. Kian melimpah hartanya, ia akan kian dermawan. Semua itu dikarenakan ia menyadari, bahwa semua yang ada adalah titipan Allah semata. Tidak dinafkahkan di jalan Allah, pasti Allah akan mengambilnya kembali jika Dia kehendaki.

Semakin bersih hati, hidupnya selalu akan diselimuti rasa syukur. Dikaruniai apa saja, kendati sedikit, ia tidak akan habis-habisnya meyakini bahwa semua ini adalah titipan Allah semata, sehingga amat jauh dari sikap ujub dan takabur. Persis seperti ucapan yang terlontar dari lisan Nabi Sulaiman ‘alaihissalam tatkala dirinya dianugerahi Allah berbagai kelebihan, “Haadzaa min fadhli Rabbii, liyabluwanii a-asykuru am akfuru” (QS an-Naml [271]: 40). Ini termasuk karunia Tuhanku, untuk mengujiku apakah aku mampu bersyukur atau malah kufur atas nikmat-Nya.

Bagi orang yang hatinya bersih, semua itu tidak kalah terasa nikmatnya. Ujian dan persoalan yang menimpa justru benar-benar akan membuatnya kian merasakan indahnya hidup ini. Karena, orang yang mengenal Allah dengan baik berkat hati yang bersih, akan merasa yakin bahwa ujian adalah salah satu perangk~ kasih sayang Allah , yang membuat seseorang semakin bermutu.

Dengan persoalan akan menjadikannya semakin bertambah ilmu. Dengan persoalan akan bertambah· ganjaran. Dengan persoalan pula derajat kemuliaan seorang hamba Allah akan bertambah naik, sehingga ia tidak akan pemah resah, kecewa, dan berkeluh kesah karena menyadari bahwa persoalan merupakan bagian yang harus dinikmati dalam hidup ini.

Oleh karenanya, tidak usah heran orang yang hatinya bersih, ditimpa apa pun dalam hidup ini, sungguh bagaikan air di relung lautan yang dalam. Tidak akan pernah terguncang walaupun ombak badai saling menerjang. lbarat karang yang tegak tegar, dihantam ombak sedahsyat apa pun tidak akan roboh terkapar. Tidak ada putus asa, tidak ada keluh kesah berkepanjangan. Yang ada hanya kejernihan dan keindahan hati. Ia amat yakin dengan janji Allah, “Laa yukallifullaahu nafsanillaa wus’ahaa” (QS al-Baqarah [2]: 286). Allah tidak akan membebani seseorang, kecuali sesuai dengan kesanggupannya. Pasti semua yang menimpa sudah diukur oleh-Nya. Maha Suci Allah dari perbuatan zalim kepada hamba-hambaNya. Ia sangat yakin bahwa hujan pasti berhenti. Badai pasti berlalu. Malam pasti berganti menjadi siang. Tidak ada satu pun ujian yang menimpa, kecuali pasti akan ada titik akhirnya. Ia tidak berubah bagai intan yang akan tetap kemilau walaupun dihantam dengan apa pun jua.

Memang luar biasa orang yang memiliki hati yang bersih. Nikmat datang tak pernah membuatnya lalai dari bersyukur, sementara sekalipun musibah yang menerjang, sama sekali tidak akan pemah mengurangi keyakinan akan curahan kasih sayang-Nya. Semua itu dikarenakan ia bisa menyelami sesuatu secara lebih dalam atas musibah yang mnenimpa dirinya, sehingga tergapailah sang mutiara hikmah.

Subhanallah, sungguh teramat beruntung siapa pun yang senantiasa berikhtiar dengan sekuat-kuatnya untuk memperindah kalbunya.

[Bening Hati, K.H. Abdullah Gymnastiar & Basyar Isya]

MEMILIH CALON ISTERI

-Taat kepada Allah Ta?ala dan kepada suami

-Menjaga dirinya dan harta suami apabila suami bepergian

-Menyenangkan apabila dipandang suami

Allah Ta?ala berfirman: ?Wanita yang shalihah adalah yang taat kepada Allah dan kepada suaminya lagi memelihara diri ketika suami tidak ada . . . . . ? (QS. An-Nisaa?: 34)

Rasulullah ?Shallallahu ?Alaihi Wa ?Ala Alihi Wa Sallam bersabda: ?Isteri terbaik adalah apabila dipandang suami ia menyenangkan, apabila diperintah ia taat dan apabila ditinggal bepergian ia menjaga dirinya dan harta suaminya.? (HR. Imam Ahmad dll dengan sanad sahih)

Beliau ?Shallallahu ?Alaihi Wa ?Ala Alihi Wa Sallam bersabda pula: ?Dunia adalah kesenangan, dan sebaik-baik kesenangan dunia adalah isteri yang shalihah.? (HR. Muslim)

NASIHAT KEPADA PARA GADIS REMAJA

Dengan terbata-bata dan diiringi linangan air mata penyesalan seorang remaja putri bertutur,

“Peristiwa ini bermula hanya dari pembicaraan melalui telepon antara diriku dengan seorang pria, lalu berlanjut membuahkan kisah cinta di antara kami. Ia merayu bahwa dirinya sangat mencintaiku dan ingin segera meminangku. Dia berharap dapat bertemu muka denganku, namun aku sungguh merasa keberatan, bahkan aku mengancam ingin menjauhi dirinya, kemudian menyudahi hubungan ini. Akan tetapi aku tak kuasa melakukan itu. Maka aku putuskan dengan mengirimkan fotoku dalam sebuah surat cinta yang semerbak dengan wangi aroma bunga mawar.

Gayung bersambut suratku pun dibalas olehnya, dan semenjak itu kami sering saling kirim surat. Suatu ketika melalui surat, ia mengajakku untuk keluar pergi berduaan, aku menolak dengan keras ajakan itu. Tetapi ia balik mengancam akan membeberkan semua tentang diriku, foto-fotoku, surat cintaku, dan obrolanku dengannya selama ini melalui telepon, yang ternyata ia selalu merekamnya. Aku benar-benar dibuat tak berdaya oleh ancamannya.

Akhirnya aku pun pergi keluar bersamanya dan berharap dapat pulang kembali ke rumah dengan secepatnya. Memang aku pun akhirnya pulang, namun sudah bukan sebagai diriku yang dulu lagi, aku telah berubah. Aku kembali ke rumah dengan membawa aib yang berkepanjangan, dan suatu ketika kutanyakan kepadanya, “Kapan kita akan menikah?” Apakah tidak secepatnya? Namun ternyata jawaban yang ia berikan sungguh menyakitkan, dengan nada menghina dan merendahkanku ia berkata, “Aku tak mau menikah dengan wanita rendahan sepertimu!”

Wahai saudariku tercinta!

kini engkau tahu bagaimana akhir dari hubungan kami yang jelas-jelas terlarang dalam agama ini. Oleh karena itu waspada dan berhati-hatilah jangan sampai engkau terjerumus dalam hubungan semacam itu. Jauhilah teman yang buruk perangai, yang suatu saat bisa saja ia menjerumuskanmu lalu menyeretmu ke dalam pergaulan yang rendah dan terlarang. Ia hiasi itu semua sehingga seakan-akan menarik dan merupakan hal biasa yang tidak akan berakibat apa-apa, tak akan ada aib dan lain sebagainya.

Jangan percaya omongannya, sekali lagi jangan gampang percaya! Itu semua tak lain adalah tipu daya yang dilancarkan oleh syetan dan teman-temannya. Dan jika engkau tak mau berhati-hati maka sungguh hubungan haram itu akan berakibat sebagaimana yang telah kusebutkan di atas atau bahkan lebih parah dan menyakitkan lagi.

Berhati-hatilah jangan sampai engkau terpedaya dengan bujuk rayu para laki-laki pendosa itu yang kesukaannya hanya mempermainkan kehormatan orang lain. Mereka adalah pembohong, pendusta dan pengkhianat, walau salah satu dari mulut mereka terkadang menyampaikan kejujuran dan keikhlasan. Apa yang diinginkan mereka adalah sama, dan semua orang yang berakal mengetahui itu, seakan tiada yang tersembunyi. Berapa kali kita mendengarkan, demikian juga selain kita tentang perilaku keji mereka terhadap para gadis remaja.

Namun sayang seribu sayang bahwa sebagian para gadis tak bisa mengambil pelajaran dari peristiwa memalukan yang menimpa gadis lainnya. Mereka tak mempercayai segala ucapan dan nasehat yang diberikan kecuali setelah peristiwa itu benar-benar menimpa, dan setelah terlanjur menjadi korban kebiadaban lelaki amoral itu. Tatkala musibah dan aib yang mencoreng muka telah terjadi, maka ketika itulah ia baru terbangun dari keterlenaannya, timbullah penyesalan yang mendalam atas segala yang telah dilakukannya. Ia berangan-angan agar aib, derita, dan kegetiran itu segera berakhir, namun musim telah berlalu dan segalanya telah terjadi,yang hilang tiada mungkin kembali! “Mengapa semua jadi begini?”

Saudariku Tercinta!

Bagi yang terlanjur jatuh dalam hubungan yang haram dan terlarang, jika mau berpikir maka tentu ia akan menjauhi cara seperti itu sejak awal mulanya. Sehingga tak seorang pun bisa mengajaknya demikian berpetualang dalam cinta. Sebab dalam petualangan tersebut mempertaruhkan sesuatu yang paling mulia yang merupakan lambang harga diri dan kesucian wanita. Jika sekali telah hilang, maka tak akan mungkin kembali selamanya. Wanita mana yang menginginkan agar miliknya yang paling berharga hilang begitu saja dengan sia-sia demi kesenangan sekejap? Lalu setelah itu kembali ke tengah-tengah keluarga dan masyarakat dalam keadaan terhina dan tersisih tiada mampu mendongakkan kepala?

Tiada lagi laki-laki yang mengingin kannya, hidup terkucil dan penuh kerugian yang selalu mengiringi sisa umurnya. Hatinya makin teriris manakala melihat teman sebayanya atau yang lebih muda telah menjadi seorang istri, seorang ibu rumah tangga dan pendidik generasi muda.

Oleh karena itu wahai saudariku, pikirkanlah semua ini! Jauhilah olehmu hubungan muda-mudi yang melanggar aturan agama agar engkau tidak menjadi korban selanjutnya. Ambillah pelajaran dari peristiwa yang menimpa gadis selainmu, dan jangan sampai engkau menjadi pelajaran yang diambil oleh mereka. Ketahuilah bahwa wanita yang terjaga kehormatannya itu sangatlah mahal, jika ia mengkhianati dan tak menjaga kehormatan itu, maka kehinaanlah yang pantas baginya. Tetaplah engkau pada kondisi jiwamu yang suci dan mulia dan janganlah sekali-kali engkau membuatnya hina serta menurunkan martabat dan ketinggian nilainya.

Jangan kau kira bahwa untuk mendapatkan seorang suami yang baik hanya dapat diperoleh melalui obrolan lewat telepon ataupun pacaran dan pergaulan bebas. Banyak di antara mereka yang jika dimintai pertanggung jawaban agar segera menikah justru mengatakan:

Bagaimana mungkin aku menikahi wanita sepertinya.
Bagaimana pula aku rela dengan tingkah laku dan caranya.
Bagi wanita yang telah mengkhianati kehormatannya sehari saja.
Maka tiada mungkin bagi diriku untuk memperistrinya.

Bila engkau tak menginginkan jawaban yang menyakitkan seperti ini maka jangan sekali-kali menjalin hubungan terlarang, cegahlah sedini mungkin. Selagi dirimu dapat mengen-dalikan segala urusan yang menyangkut pribadimu, maka kemuliaan dan harga diri akan terjaga. Carilah suami dengan cara yang baik dan benar, sebab kalau toh engkau mendapatkannya dengan cara gaul bebas dan cara-cara lain yang tidak benar, maka biasanya akan berakibat tersia-sianya rumah tangga dan bahkan perceraian. Rata-rata kehidupan mereka dipenuhi oleh duri, saling curiga, menuduh, dan penuh ketidakpercayaan.

Jangan kau percayai propaganda sesat yang berkedok kemajuan zaman atau mereka yang menggembar-gemborkan kebebasan kaum wanita yang mengharuskan menjalin cinta terlebih dahulu sebelum menikah. Janganlah terkecoh, sebab cinta sejati tak akan ada kecuali setelah menikah. Sedang selain itu, maka pada umumnya adalah cinta semu, hanya mengikuti angan-angan dan fatamorgana, sekedar menuruti kesenangan, hawa nafsu, dan pelampiasan emosi belaka.

Ingatlah bahwa kehidupan dunia ini sangatlah singkat dan sementara, mungkin sebentar lagi engkau akan meninggalkannya. Maka jika ternyata engkau telah terkhilaf dengan dosa-dosa segera saja bertaubat memohon ampunan sebelum ada dinding penghalang antara taubat dengan dirimu. Demi Allah nasihat ini kusampaikan dengan tulus untukmu dan itu semua semata-mata karena rasa sayang dan cintaku kepadamu.

Sumber: Buletin Darul Wathan “nihayatu fatah” [alsofwah]

HATI ADALAH PEMIMPIN

Peran hati terhadap seluruh anggota badan ibarat raja terhadap para prajuritnya. Semua bekerja atas dasar perintahnya dan tunduk kepadanya. Di kemudian hari hati akan ditanya tentang para prajuritnya. Sebab setiap pemimpin itu bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.

Allah Ta?ala berfirman : ?Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.? (Surat 16 Al-Israa? (Memperjalankan Di Malam Hari) Ayat 36)

Rasulullah ?Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam bersabda : ?Ketahuilah, di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Bila ia baik maka baik pulalah seluruh tubuh. Dan apabila ia rusak maka rusak pulalah seluruh tubuh. Ketahuilah itu adalah hati.?(HR Bukhari dan Muslim)

Maka, memperhatikan dan meluruskan hati merupakan perkara yang paling utama untuk diseriusi oleh orang-orang yang menempuh jalan menuju Allah. Demikian pula dengan mengkaji penyakit-penyakit hati dan metode mengobatinya merupakan bentuk ibadah yang utama bagi ahli ibadah.

Hatimu Saudaraku, semoga Allah memberkatimu?

Jangan kotori hatimu?Hati yang kotor tidak akan pernah sampai kepada Allah?Hati yang kotor tidak akan pernah hidup bahagia?Hati adalah segala-galanya?Seorang ahli ibadah yang hatinya kotor, kelak dilempar ke neraka?Ibadah tidak merubahnya?Ibadah tidak berguna bagi mereka?Amalan hati lebih penting daripada amalan badan, walau keduanya sama penting?Semoga hati kita benar-benar menjadi pemimpin yang baik dan bertangung jawab?

CINTA KARENA ALLAH ITU MEMPUNYAI HARGA SANGAT MAHAL, SIAPKAH KITA MEMBAYARKANNYA?

Cinta karena Allah itu mempunyai harga sangat mahal yang harus dibayar, dan sedikit sekali yang mau membayarnya.
Apa harga mahal yang harus dibayar itu?

Harga mahal yang harus dibayarkan oleh siapa saja yang mengaku cinta karena Allah, yaitu; SALING MENASEHATI, sebagaimana firman Allah ta’ala dalam surat 103 Al-‘Ashr.

Seseorang yang mengaku cinta kepada temannya karena Allah maka harus terus menerus mengawasi temannya tersebut untuk saling menasehati dalam kebaikan dan kebenaran. Hal ini jarang dilakukan oleh orang-orang yang mengaku saling cinta karena Allah, dengan alasan khawatir temannya tersinggung, atau khawatir temannya marah, atau khawatir temannya meninggalkannya, dan berbagai macam alasan lainnya..

Jadi, harga mahal yang harus dibayarkan oleh orang-orang yang saling mencintai karena Allah adalah saling menasehati dengan melakukan amar makruf nahi munkar, yaitu saling mengingatkan dan memotivasi untuk menjadi lebih baik, lebih taat kepada Allah, lebih istiqomah dalam Islam dan Sunnah.

Karena itu apabila ada dua orang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bertemu, keduanya tidak berpisah melainkan salah seorang dari keduanya membacakan kepada yang lain surat Al-‘Ashr sampai selesai, kemudian salah seorang dari keduanya memberikan salam kepada yang lain dan berpisah.

Ath-Thabrani Rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya dari Ubaidullah bin Hisn Abu Madinah, ia berkata: “Bahwasanya apabila ada dua orang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bertemu, keduanya tidak berpisah melainkan salah seorang dari keduanya membacakan kepada yang lain surat Al-‘Ashr sampai selesai, kemudian salah seorang dari keduanya memberikan salam kepada yang lain.”

Al-Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah berkata: “Kalau sekiranya manusia mentadabburi (merenungkan dan menghayati) surat ini (Al-‘Ashr), pastilah cukup bagi mereka.”

[Tafsir Ibnu Katsir: 4/657, Tafsir Al-Qasimiy: 9/538 dan Al-Misbahul Munir Fi Tahdzib Tafsir Ibni Katsir, Isyraf: As-Syaikh Shafiyyur Rahman Al-Mubarak Fuuriy, hal 1529].

بسم الله الرحمن الرحيم
{ وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3) }

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

{1. Demi masa.
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,
3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh
dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran
dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.}

JODOH ITU MISTERIUS..

Benarkah orang baik itu pasti mendapatkan jodoh orang baik, dan orang jahat mendapat jodoh orang jahat pula..???

Realitanya tidak begitu..?!

 

Berapa banyak orang baik yang mendapat orang jahat dan sebaliknya..!

Bahkan Nabi Nuh dan Nabi Luth, kedua Nabi tersebut isterinya kafir..!

Fir’aun, manusia paling kafir mempunyai isteri shalihah, yaitu Asiah binti Muzahim..!

Ada beberapa penafsiran tentang ayat 26 dari surat An-Nur.

Al-Imam Muhammad bin Jarir Abu Ja’far Ath-Thabari [wafat 310 Hijriyah] rahimahullah dalam tafsirnya ‘Jami’ul Bayan Fi Ta’wilil Qur’an’ menjelaskan bahwa yang paling tepat diantara pendapat-pendapat dalam menafsirkan ayat tersebut adalah:
Ucapan yang buruk itu untuk laki-laki dan perempuan yang buruk.
Manusia yang buruk itu tepat untuk ucapan yang buruk.
Ucapan yang baik untuk laki-laki dan perempuan yang baik.
Manusia yang baik itu tepat dan berhak serta layak untuk ucapan yang baik.

Beliau menjelaskan alasan memilih tafsir ini karena ayat 26 ini berhubungan dengan ayat-ayat sebelumnya yang berisi pencelaan dari Allah untuk orang-orang yang menuduh ibunda Aisyah radliyallahu ‘anha dengan tuduhan keji padahal ibunda Aisyah radliyallahu ‘anha terlepas dari tuduhan keji tersebut.

Al-Imam Muhyi As-Sunnah Abu Muhammad Al-Husain bin Mas’ud Al-Baghawi [wafat 516 Hijriyah] rahimahullah dalam tafsirnya ‘Ma’alimut Tanzil’ menjelaskan bahwa kebanyakan ahli tafsir menafsirkan seperti itu.

Demikian pula An-Nur ayat 3 itu bukan tentang perjodohan, tapi hukum menikah dengan pezina yang belum bertaubat.

SOLUSI ATAS REALITA PERBEDAAN BAHKAN PERPECAHAN UMAT

Solusinya adalah;
1. Terus belajar dan mencari.
2. Banyak berdoa memohon petunjuk kepada Allah.
3. Hindari saling vonis sesat apalagi neraka.
4. Kedepankan husnudzdzan atau prasangka baik kepada sesama muslim lintas organisasi.
5. Fokus mencari titik temu dan bukan memperbesar titik beda.
6. Perbanyak istighfar dan taubat serta berdzikir kepada Allah.
7. Membaca, mengkaji, memahami dan berusaha mengamalkan Al-Qur’an.

Kita semua adalah pengikut Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam, tinggal satu syarat lagi untuk bisa masuk surga, yaitu; “ikhlas” karena Allah dalam semua aktifitas kita dan banyak berbuat kebaikan kepada semua makhluk Allah; kepada manusia, binatang dan bahkan alam.

Mempunyai prinsip itu perlu bahkan harus agar kita tidak bingung dan terombang-ambing, tapi sikap kepada yang berbeda harus dijaga untuk tidak saling serang dan provokasi dengan mengedepankan maslahat umat daripada maslahat kelompok.

Dalam hal aqidah kami berpedoman kepada kitab “Al-Aqidah Ath-Thahawiyah” karya Al-Imam Al-Allamah Al-Hafizh Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad bin Salamah Al-Azdi Al-Hijri Al-Mishri Ath-Thahawi (wafat 321 H), kitab Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang diterima oleh Empat Madzhab; Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali.

Allah adalah pemutus perkara diantara kita di pengadilan Allah nanti karena keputusan Allah adalah paling adil dan paling bijaksana.

Harapannya adalah kita semua masuk surga, aamiin ya Robb.

BELAJAR MENGUASAI LISAN

Abu Hatim Muhammad Ibn Hibban Al-Busti ?Rahimahullah Berkata:

?Wajib atas orang berakal untuk bersikap adil terhadap kedua telinganya daripada mulutnya. Hendaklah dia mengetahui bahwa sesungguhnya dijadikan untuknya dua telinga dan satu mulut agar supaya lebih banyak mendengar daripada berbicara. Karena apabila dia berbicara bisa jadi dia menyesal dan apabila tidak berbicara dia tidak menyesal. Lebih mudah baginya mencabut (menarik kembali) apa yang belum diucapkan daripada mencabut (menarik kembali) apa yang telah diucapkan. Kata-kata yang telah diucapkan akan menguasainya (menguasai orang yang telah mengucapkannya) sedangkan yang belum diucapkan, maka dia-lah yang menguasainya. Sungguh mengherankan orang yang mengucapkan kata-kata yang akan membahayakannya, padahal jika tidak diucapkannya tidak akan membahayakannya. Mengapa tidak diam saja? Berapa banyak ucapan yang menyebabkan tercabutnya nikmat!?.

(Raudhatul ?Uqalaa? Wa Nuzhatul Fudhalaa? 
karya Abu Hatim Muhammad Ibn Hibban Al-Busti (Wafat 354 H) 
hlm 35)…

PRASANGKA BURUK, MENCARI KEBURUKAN ORANG LAIN DAN MENGGUNJING (GHIBAH)

Allah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.
[QS Al Hujuraat ayat 12]

Adz-dzan adalah prasangka. Hukumnya dosa jika berprasangka buruk kepada saudara kita tanpa ada alasan apapun, apalagi kepada orang yang tidak tahu menahu tentang keburukan yang kita sangka-kan kepadanya.

Dalam ayat tersebut diatas ada tiga tahapan keburukan:

1. Berprasangka buruk kepada orang lain.
2. Mencari-cari keburukannya untuk membenarkan prasangka buruk tersebut.
3. Meng-ghibah-nya atau menggunjingnya.

Definisi Ghibah

Ghibah atau menggunjing adalah menceritakan tentang orang lain yang orang tersebut tidak suka jika hal itu kita ceritakan walaupun benar adanya, demikian definisi ghibah seperti dijelaskan Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Salam dalam hadits shahih.

Syarat Taubat dari Ghibah atau Fitnah..

1. Menyesali perbuatannya dan memohon ampun serta taubat kepada Allah.

2. Meminta maaf kepada orang yang telah di-ghibahnya.

3. Mengakui kesalahannya dan mencabut semua fitnahannya serta merehabilitasi nama baik orang yang telah difitnah.

4. Berdoa kebaikan dan memuji orang yang telah di-ghibahnya.

5. Tidak berbuat seperti itu lagi dan berjanji tidak akan mengulangi lagi selamanya.

Renungan Tentang Ghibah..

“Perumpamaan orang yang meng-ghibah (menggunjing) orang lain adalah seperti orang yang memasang ketepel besar, lalu ia melemparkan (membuang) kebaikan-kebaikannya dengan ketepel itu ke kanan dan ke kiri, ke timur dan ke barat (sehingga kebaikannya habis)”.
[Ibnul Jauzi dalam Bahrud Dumu’ hlm 131]

Menyikapi Orang Yang Meng-Ghibah Kita..

Seseorang datang kepada Al-Hasan Al-Basri seraya berkata: Sesungguhnya si fulan telah meng-ghibah-mu.
Maka Al-Hasan Al-Basri mengirimkan kepada orang yang telah meng-ghibah-nya tersebut satu wadah ruthob [kurma segar yang lezat] seraya berkata: “Telah sampai berita kepadaku bahwa anda menghadiahkan untukku kebaikan-kebaikan anda, maka aku ingin membalas anda atasnya, tapi mohon maaf karena aku tidak bisa membalas anda dengan sempurna”.

Orang Bangkrut dan Pailit yang Sebenarnya

Diceritakan oleh Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Salam dalam hadits shahih bahwa ada umat Beliau yang bangkrut dan pailit pada hari kiamat nanti dikarenakan pahala kebaikannya diambil untuk melunasi kedzalimannya sehingga dosanya bertambah banyak dan ia dilempar ke neraka, diantara mereka adalah orang yang suka meng-ghibah orang lain.

Ya Allah, selamatkan kami dan keluarga kami serta kaum muslimin semuanya..

Akhukum Fillah
@AbdullahHadrami

JAGALAH KEHORMATANMU WAHAI UKHTI

Menjadi laki-laki atau perempuan memang bukan pilihan kita. Tetapi menjadi laki-laki yang baik atau buruk adalah sebuah pilihan dalam genggaman kita. Terlebih-lebih bagi perempuan, mau menjadi wanita shalihat atau ahli maksiat adalah pilihan yang harus diambil.

Dalam setiap tayangan TiVi, dapat dipastikan bahwa wanita senantiasa menghiasi semua program. Iklan-iklanpun bertaburan bintang-bintang wanita sekalipun barang yang dijual tidak ada hubungan sama sekali dengan wanita. Wanita sudah menjadi bagian penting dalam promosi, bahkan komoditi itu sendiri.

Tak jarang, wanita-wanita seperti ini menjadikan profesi bintang publikasi sebagai cita-cita dan tujuan hidupnya karena dengannya popularitas dapat diraih dan duitpun menumpuk di kantong. Untuk mencapai tujuannya ini tak jarang mereka menggunakan segala cara. Tubuh yang Allah anugerahkan untuk dijaga kehormatan dan ditutupi auratnya justru dieksploitasi habis-habisan. Tak sedikit yang kemudian menggadaikannya…

Duhai diri, apa yang akan kau sampaikan di hadapan Rabbmu di hari pengadilan nanti?

Ketika lidah dikunci dan setiap helai rambut menjadi saksi? Tatkala lisan tak berfungsi dan setiap degup hati dimintai pertanggungjawaban?

Itulah sebabnya menjadi wanita shalihat adalah sebuah keharusan. Karena wanita shalihat akan menjadi ibu shalihat dan ibu shalihat saja yang akan melahirkan generasi shalih dan shalihat. Dan hanya generasi shalih-shalihat yang mampu menjadikan dunia seisinya aman dan sentausa dalam ridla Allah SWT.

Oleh karena itu saudariku, tutuplah auratmu agar tak ada mata yang menjadi liar karenanya. Tutuplah dengan sempurna agar tak ada celah bagi setan untuk membeliakkan mata saudara-saudara kita. Lindungi aurat kita dengan santun dan mulia. Bukan ditutup tapi ditonjolkan. Bukan ditutup tapi diketatkan. Bukan ditutup tapi dibelah tinggi.

Tolonglah saudara-saudara lelaki kita agar teduh mata hatinya….

Duhai diri, tak cukup hanya menjilbabi fisikmu. Wajah cantik muslimah pun menggugah selera. Teduhkan wajahmu dengan malu kepada Allah SWT agar setiap senyummu menjadi sedekah, bukan penghias mimpi para jejaka. Jadikan lantunan suaramu sebagai tadzkirah bukan penghias telinga yang membuai para pendengarmu. Setiap sepak terjangmu jadikan jihad di jalanNYA agar barakah setiap amalmu. Siapapun kelak yang menjadi suamimu adalah mukmin shalih yang engkau percayakan sepenuhnya di tangan Rabbmu..

Wahai saudariku muslimah, jagalah kehormatanmu dan bersiaplah menyongsong dunia yang penuh persaingan!

Berjilbab bukanlah halangan untuk maju! Aisyah ra adalah contoh nyata bahwa hijab tidak menghalangi beliau sebagai guru para sahabat radliyyallaahu anhum. Ketinggian ilmu Bunda Aisyah tidak ada tandingannya. Shahabiyah yang lainpun menorehkan tinta emas dalam sejarah panjang kegemilangan Islam. Semuanya dilakukan dengan elegan, bermartabat dan berkualitas. Bukan dengan cara pintas yang menggadaikan harkat dan jati diri kita.

Wahai Ukhti shalihat, melesatlah ke depan memimpin kaum wanita karena di tanganmulah nasib bangsa ini ditentukan melalui generasi yang akan engkau lahirkan. Yakinlah bahwa setiap insan yang terlahir dari rahimmu adalah khalifah yang dinanti oleh dunia yang tengah sekarat ini…

DIALOG 2 KATAK

Katak yang tinggal di sawah berkata kepada katak yang tinggal di pinggir jalan:
“Tempatmu terlalu berbahaya, tinggallah denganku.”
Katak di pinggir jalan menjawab: “Aku sudah terbiasa, malas untuk pindah.”
Beberapa hari kemudian katak “sawah” menjenguk katak “pinggir jalan” dan menemukan bahwa si katak sudah mati dilindas mobil yang lewat.

Hikmah: Dengar dan Perhatikan Nasehat Orang Lain Serta Jangan Malas, Karena Malas Membawa Kepada Kesengsaraan.

LANGKAH SYETAN MENELANJANGI WANITA

Setan dalam menggoda manusia memiliki berbagai macam strategi, dan yang sering dipakai adalah dengan memanfaatkan hawa nafsu, yang memang memiliki kecenderungan mengajak kepada keburukan (ammaratun bis su’). Setan tahu persis kecenderungan nafsu kita, dia terus berusaha agar manusia keluar dari garis yang telah ditentukan Allah, termasuk melepaskan hijab atau pakaian muslimah. Berikut ini tahapan-tahapannya.

I. Menghilangkan Definisi Hijab
Dalam tahap ini setan membisikkan kepada para wanita, bahwa pakaian apapun termasuk hijab (penutup) itu tidak ada kaitannya dengan agama, ia hanya sekedar pakaian atau mode hiasan bagi para wanita. Jadi tidak ada pakaian syar’i, pakaian ya pakaian, apa pun bentuk dan namanya.
Sehingga akibatnya, ketika zaman telah berubah, atau kebudayaan manusia telah berganti, maka tidak ada masalah pakaian ikut ganti juga. Demikian pula ketika seseorang berpindah dari suatu negeri ke negeri yang lain, maka harus menyesuaikan diri dengan pakaian penduduknya, apapun yang mereka pakai.

Berbeda halnya jika seorang wanita berkeyakinan, bahwa hijab adalah pakaian syar’i (identitas keislaman), dan memakainya adalah ibadah bukan sekedar mode. Biarpun hidup kapan saja dan di mana saja, maka hijab syar’i tetap dipertahankan.
Apabila seorang wanita masih bertahan dengan prinsip hijabnya, maka setan beralih dengan strategi yang lebih halus. Caranya?

Pertama, Membuka Bagian Tangan
Telapak tangan mungkin sudah terbiasa terbuka, maka setan mem-bisik kan kepada para wanita agar ada sedikit peningkatan model yakni membuka bagian hasta (siku hingga telapak tangan). “Ah tidak apa-apa, kan masih pakai jilbab dan pakai baju panjang? Begitu bisikan setan. Dan benar sang wanita akhirnya memakai pakain model baru yang menampakkan tangannya, dan ternyata para lelaki yang melihat nya juga biasa-biasa saja. Maka setan berbisik,” Tuh tidak apa-apa kan?

Kedua, Membuka Leher dan Dada
Setelah menampakkan tangan menjadi kebiasaan, maka datanglah setan untuk membisikkan hal baru lagi. “Kini buka tangan sudah lumrah, maka perlu ada peningkatan model pakaian yang lebih maju lagi, yakni terbuka bagian atas dada kamu.” Tapi jangan sebut sebagai pakaian terbuka, hanya sekedar sedikit untuk mendapatkan hawa, agar tidak gerah. Cobalah! Orang pasti tidak akan peduli, sebab hanya bagian kecil saja yang terbuka.

Maka dipakailah pakaian model baru yang terbuka bagian leher dan dadanya dari yang model setengah lingkaran hingga yang model bentuk huruf “V” yang tentu menjadikan lebih terlihat lagi bagian sensitif lagi dari dadanya.

Ketiga, Berpakian Tapi Telanjang
Setan berbisik lagi, “Pakaian kok hanya gitu-gitu saja, cari model atau bahan lain yang lebih bagus! Tapi apa ya? Sang wanita bergumam. “Banyak model dan kain yang agak tipis, lalu bentuknya dibuat yang agak ketat biar lebih enak dipandang,” setan memberi ide baru.

Maka tergodalah si wanita, di carilah model pakaian yang ketat dan kain yang tipis bahkan transparan. “Nggak apa-apa kok, kan potongan pakaiannya masih panjang, hanya bahan dan modelnya saja yang agak berbeda, biar nampak lebih feminin,” begitu dia menambahkan. Walhasil pakaian tersebut akhirnya membudaya di kalangan wanita muslimah, makin hari makin bertambah ketat dan transparan, maka jadilah mereka wanita yang disebut oleh Nabi sebagai wanita kasiyat ‘ariyat (berpakaian tetapi telanjang).

Keempat, Agak di Buka Sedikit
Setelah para wanita muslimah mengenakan busana yang ketat, maka setan datang lagi. Dan sebagaimana biasanya dia menawarkan ide baru yang sepertinya segar dan enak, yakni dibisiki wanita itu, “Pakaian seperti ini membuat susah berjalan atau duduk, soalnya sempit, apa nggak sebaiknya di belah hingga lutut atau mendekati paha?” Dengan itu kamu akan lebih leluasa, lebih kelihatan lincah dan enerjik.”
Lalu dicobalah ide baru itu, dan memang benar dengan dibelah mulai bagian bawah hingga lutut atau mendekati paha ternyata membuat lebih enak dan leluasa, terutama ketika akan duduk atau naik ke jok mobil. “Yah tersingkap sedikit nggak apa-apa lah, yang penting enjoy,” katanya.

Inilah tahapan awal setan merusak kaum wanita, hingga tahap ini pakaian masih tetap utuh dan panjang, hanya model, corak, potongan dan bahan saja yang dibuat berbeda dengan hijab syar’i yang sebenarnya. Maka kini mulailah setan pada tahapan berikutnya.

II. Terbuka Sedikit Demi Sedikit
Kini setan melangkah lagi, dengan trik dan siasat lain yang lebih ampuh, tujuannya agar para wanita menampak kan bagian aurat tubuhnya.

Pertama, Membuka Telapak Kaki dan Tumit.
Setan Berbisik kepada para wanita, “Baju panjang benar-benar membuat repot, kalau hanya dengan membelah sedikit bagiannya masih kurang leluasa, lebih enak kalau di potong saja hingga atas mata kaki.” Ini baru agak longgar. “Oh ada yang kelupaan, kalau kamu bakai baju demikian, maka jilbab yang besar tidak cocok lagi, sekarang kamu cari jilbab yang kecil agar lebih serasi dan gaul, toh orang tetap menamakannya dengan jilbab.”

Maka para wanita yang terpengaruh dengan bisikan ini buru-buru mencari model pakaian yang dimaksudkan. Tak ketinggalan sepatu hak tinggi, yang kalau untuk berjalan mengeluarkan suara yang menarik perhatian orang.

Kedua, Membuka Seperempat Hingga Separuh Betis
Terbuka telapak kaki telah biasa ia lakukan, dan ternyata orang-orang yang melihat juga tidak begitu peduli. Maka setan kembali berbisik, “Ternyata kebanyakan manusia menyukai apa yang kamu lakukan, buktinya mereka tidak bereaksi apa-apa, kecuali hanya beberapa orang. Kalau langkah kakimu masih kurang leluasa, maka cobalah kamu cari model lain yang lebih enak, bukankah kini banyak rok setengah betis dijual di pasaran? Tidak usah terlalu mencolok, hanya terlihat kira-kira sepuluh senti saja.” Nanti kalau sudah terbiasa, baru kamu cari model baru yang terbuka hingga setengah betis.”

Benar-benar bisikan setan dan hawa nafsu telah menjadi penasehat pribadinya, sehingga apa yang saja yang dibisikkan setan dalam jiwanya dia turuti. Maka terbiasalah dia memakai pakaian yang terlihat separuh betisnya kemana saja dia pergi.

Ketiga, Terbuka Seluruh Betis
Kini di mata si wanita, zaman benar-benar telah berubah, setan telah berhasil membalikkan pandangan jernihnya. Terkadang sang wanita berpikir, apakah ini tidak menyelisihi para wanita di masa Nabi dahulu. Namun buru-buru bisikan setan dan hawa nafsu menyahut, “Ah jelas enggak, kan sekarang zaman sudah berubah, kalau zaman dulu para lelaki mengangkat pakaiannya hingga setengah betis, maka wanitanya harus menyelisihi dengan menjulurkannya hingga menutup telapak kaki, tapi kini lain, sekarang banyak laki-laki yang menurunkan pakaiannya hingga bawah mata kaki, maka wanitanya harus menyelisihi mereka yaitu dengan mengangkatnya hingga setengah betis atau kalau perlu lebih ke atas lagi, sehingga nampak seluruh betisnya.”
Tetapi… apakah itu tidak menjadi fitnah bagi kaum laki-laki,” gumamnya. “Fitnah? Ah itu kan zaman dulu, di masa itu kaum laki-laki tidak suka kalau wanita menampakkan auratnya, sehingga wanita-wanita mereka lebih banyak di rumah dan pakaian mereka sangat tertutup. Tapi sekarang sudah berbeda, kini kaum laki-laki kalau melihat bagian tubuh wanita yang terbuka malah senang dan mengatakan ooh atau wow, bukankah ini berarti sudah tidak ada lagi fitnah, karena sama-sama suka? Lihat saja model pakaian di sana-sini, dari yang di emperan hingga yang yang bermerek kenamaan, seperti Cristian Dior, semuanya menawarkan model yang dirancang khusus untuk wanita maju di zaman ini. Kalau kamu tidak mengikuti model itu akan menjadi wanita yang ketinggalan zaman.”

Demikianlah, maka pakaian yang menampakkan seluruh betis biasa dia kenakan, apalagi banyak para wanita yang memakainya dan sedikit sekali orang yang mempermasalahkan itu. Kini tibalah saatnya setan melancarkan tahap terakhir dari siasatnya untuk melucuti hijab wanita.

III. Serba Mini
Setelah pakaian yang menampak kan betis menjadi pakaian sehari-hari dan dirasa biasa-biasa saja, maka datanglah bisikan setan yang lain. “Pakaian membutuhkan variasi, jangan itu-itu saja, sekarang ini modelnya rok mini, dan agar serasi rambut kepala harus terbuka, sehingga benar-benar kelihatan indah.”

Maka akhirnya rok mini yang menampakkan bagian bawah paha dia pakai, bajunya pun bervariasi, ada yang terbuka hingga lengan tangan, terbuka bagian dada sekaligus bagian punggung nya dan berbagai model lain yang serba pendek dan mini. Koleksi pakaiannya sangat beraneka ragam, ada pakaian pesta, berlibur, pakaian kerja, pakaian resmi, pakaian malam, sore, musim panas, musim dingin dan lain-lain, tak ketinggalan celana pendek separuh paha pun dia miliki, model dan warna rambut juga ikut bervariasi, semuanya telah dicoba.
Begitulah sesuatu yang sepertinya mustahil untuk dilakukan, ternyata kalau sudah dihiasi oleh setan, maka segalanya menjadi serba mungkin dan diterima oleh manusia.
Hingga suatu ketika, muncul ide untuk mandi di kolam renang terbuka atau mandi di pantai, di mana semua wanitanya sama, hanya dua bagian paling rawan saja yang tersisa untuk ditutupi, kemaluan dan buah dada. Mereka semua mengenakan pakaian yang sering disebut dengan “bikini”. Karena semuanya begitu, maka harus ikut begitu, dan na’udzu billah bisikan setan berhasil, tujuannya tercapai, “Menelanjangi Kaum Wanita.” Selanjutnya terserah kamu wahai wanita, kalian semua sama, telanjang di hadapan laki-laki lain, di tempat umum. Aku berlepas diri kalau nanti kelak kalian sama-sama di neraka. Aku hanya menunjukkan jalan, engkau sendiri yang melakukan itu semua, maka tanggung sendiri semua dosamu” Setan tak mau ambil resiko.

Penutup
Demikian halus, cara yang digunakan setan, sehingga manusia terjeru-mus dalam dosa tanpa terasa. Maka hendaklah kita semua, terutama orang tua jika melihat gejala menyimpang pada anak-anak gadis dan para wanita kita sekecil apapun, segera secepatnya diambil tindakan. Jangan biarkan berlarut-larut, karena kalau dibiarkan dan telah menjadi kebiasaan, maka sangat sulit bagi kita untuk mengatasinya.
Membiarkan mereka membuka aurat berarti merelakan mereka mendapatkan laknat Allah, kasihanilah mereka, selamatkan para wanita muslimah, jangan jerumuskan mereka ke dalam kebinasaan yang menyeng-sarakan, baik di dunia maupun di akhirat. Wallahu a’lam bis shawab.

Sumber ide dan pokok pikiran: Kitab “At ta’ari asy syaithani”, Adnan ath-Thursyah, disadur dengan bebas.[alsofwah]

KEINDAHAN JILBAB


Seorang anak memperhatikan tingkah ibunya yang menurutnya aneh. Ia heran kenapa kalau akan keluar rumah, ibunya selalu menutup rapat seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. Bahkan di dalam rumah pun, jika tamu datang, ibunya segera melakukan hal yang sama: berhijab.“Ibu aneh!” ucapnya sambil mencari-cari reaksi dari sang ibu. Ibu anak itu pun menoleh ke arah buah hatinya. Ia memeriksa dirinya untuk menemukan sesuatu yang agak lain. Tapi, tidak ia temukan.“Aneh? Apanya yang aneh, sayang?” sambut sang ibu ketika yakin kalau tak ada satu pun dari dirinya yang lain dari yang lain.

“Kenapa ibu menutup rambut, tubuh, lengan, dan kaki kalau mau keluar? Padahal, ibu tidak cacat. Rambut ibu bagus, lengan dan kaki ibu pun tidak ada yang perlu disembunyikan!” ungkap sang anak begitu gamblang. Mungkin, inilah kesempatannya untuk bisa mengeluarkan kebingungannya selama ini.

Sang ibu pun senyum. Ia mendekati anaknya perlahan. Sambil mengulum senyum itu, sang ibu mencari-cari jawaban yang pas buat si anak.

“Anakku, ibu tidak sedang menutupi kecantikan, apalagi keburukan. Justru, ibu mengenakan kecantikan baru untuk memperindah kecantikan fisik ibu yang tidak seberapa. Inilah busana kecantikan dari Yang Maha Sayang!” ucap sang ibu sambil menatap buah hati di depannya yang masih tampak bingung.
**

Inti dari dinamika hidup anak-anak manusia adalah memproduksi sesuatu yang indah. Bagus. Paling baik. Keindahan akan semakin indah ketika karya anak manusia telah melalui berbagai halangan, ujian, cobaan; menggosok batu cincin keindahan amal menuju peringkat keindahan yang lebih tinggi.

Namun, itu saja belum cukup. Karena keindahan yang bisa dihasilkan manusia tidak seperti kemolekan alam melalui birunya laut, keserasian cakrawala, dan liukan indah sebuah pegunungan.

Keindahan amal manusia tidak berhenti pada sesuatu yang tampak. Justru, keindahan akan kian bernilai ketika ia tidak lagi mudah terlihat, tidak gampang terjamah. Itulah busana kecantikan amal dari Yang Maha Sayang, dan hanya untuk Yang Paling Penyayang.

TENTANG HIJAB


Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda”

 ( صنفان من أهل النار لم أرهما قوم معهم سياط كأذناب البقر يضربون بها الناس ونساء كاسيات عاريات مائلات مميلات رؤوسهن كأسنمة البخت المائلة لايدخلن الجنة ولا يجدن ريحها وان ريحها لتوجد من مسيرة كذاوكذا )
رواه أحمد ومسلم في الصحيح .

 

“Ada dua golongan penduduk neraka yang belum aku melihat keduanya,

1.      Kaum yang membawa cemeti seperti ekor sapi untuk mencambuk manusia [maksudnya penguasa yang dzalim],

2.      dan perempuan-perempuan yang berpakaian tapi telanjang, cenderung kepada kemaksiatan dan membuat orang lain juga cenderung kepada kemaksiatan. Kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang berlenggak-lenggok. Mereka tidak masuk surga dan tidak mencium bau wanginya. Padahal bau wangi surga itu tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian waktu [jarak jauh sekali]”.

(HR. Muslim dan yang lain).

Penjelasan Hadits Menurut Para Ulama:

Imam An Nawawi dalam Syarh-nya atas kitab Shahih Muslim berkata:

“Hadis ini merupakan salah satu mukjizat Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam. Apa yang telah beliau kabarkan kini telah terjadi…

Adapun “berpakaian tapi telanjang”, maka ia memiliki beberapa sisi pengertian.

Pertama, artinya adalah mengenakan nikmat-nikmat Allah namun telanjang dari bersyukur kepada-Nya.

Kedua, mengenakan pakaian namun telanjang dari perbuatan baik dan memperhatikan akhirat serta menjaga ketaatan.

Ketiga, yang menyingkap sebagian tubuhnya untuk memperlihatkan keindahannya, mereka itulah wanita yang berpakaian namun telanjang.

Keempat, yang mengenakan pakaian tipis sehingga menampakkan bagian dalamnya, berpakaian namun telanjang dalam satu makna.

Sedangkan “maa`ilaatun mumiilaatun”, maka ada yang mengatakan: menyimpang dari ketaatan kepada Allah dan apa-apa yang seharusnya mereka perbuat, seperti menjaga kemaluan dan sebagainya.

“Mumiilaat” artinya mengajarkan perempuan-perempuan yang lain untuk berbuat seperti yang mereka lakukan.

Ada yang mengatakan, “maa`ilaat” itu berlenggak-lenggok ketika berjalan, sambil menggoyang-goyangkan pundak.

Ada yang mengatakan, “maa`ilaat” adalah yang menyisir rambutnya dengan gaya condong ke atas, yaitu model para pelacur yang telah mereka kenal.

“Mumiilaat” yaitu yang menyisirkan rambut perempuan lain dengan gaya itu.

Ada yang mengatakan, “maa`ilaat” maksudnya cenderung kepada laki-laki.

“Mumiilaat” yaitu yang menggoda laki-laki dengan perhiasan yang mereka perlihatkan dan sebagainya.

Adapun “kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta”, maknanya adalah mereka membuat kepala mereka menjadi nampak besar dengan menggunakan kain kerudung atau selempang dan lainnya yang digulung di atas kepala sehingga mirip dengan punuk-punuk unta. Ini adalah penafsiran yang masyhur.

Al Maaziri berkata: dan mungkin juga maknanya adalah bahwa mereka itu sangat bernafsu untuk melihat laki-laki dan tidak menundukkan pandangan dan kepala mereka.

Sedang Al Qoodhiy memilih penafsiran bahwa itu adalah yang menyisir rambutnya dengan gaya condong ke atas. Ia berkata: yaitu dengan memilin rambut dan mengikatnya ke atas kemudian menyatukannya di tengah-tengah kepala sehingga menjadi seperti punuk-punuk unta.

Lalu ia berkata: ini menunjukkan bahwa maksud perumpamaan dengan punuk-punuk unta adalah karena tingginya rambut di atas kepala mereka, dengan dikumpulkannya rambut di atas kepala kemudian dipilin sehingga rambut itu berlenggak-lenggok ke kiri dan ke kanan kepala.

Fatwa Syaikhuna Fadlilatusy Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin rahimahullah:

Pertanyaan :

السؤال : هل ما تفعله بعض النسوة من جمع شعورهن على شكل كرةفي مؤخرة الرأس ، هل يدخل في الوعيد : ” نساء كاسيات عاريات … رؤوسهنكأسنمة البخت المائلة لا يدخلن الجنة ….” ؟

 

Apakah perbuatan yang dilakukan sebagian wanita berupa mengumpulkan rambut menjadi berbentuk bulat (menggelung/menyanggul) di belakang kepala, masuk ke dalam ancaman dalam hadits :
نساء كاسيات عاريات … رؤوسهن كأسنمة البخت المائلة لا يدخلن الجنة …“…Wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang… kepala-kepala mereka seperti punuk unta, mereka tidak akan masuk surga…“ ?

Jawaban :

الجواب :
أما جمع المرأة رأسها للشغل ، ثم بعد ذلك ترده ، فهذا لا يضر ، لأنها لا تفعل هذا زينة أو تجملا ، لكن للحاجة ،وأما رفعه وجمعه على سبيل التزين ، فإن كان إلى فوق فهو داخل في النهي ،لقوله صلى الله عليه وسلم : [ رؤوسهن كأسنمة البخت …] ، والسنام يكون فوق.

 

Adapun jika seorang wanita menggelung rambutnya karena ada kesibukan kemudian mengembalikannya setelah selesai, maka ini tidak mengapa, karena ia tidak melakukannya dengan niat berhias, akan tetapi karena adanya hajat/keperluan.
Adapun mengangkat dan menggelung rambut untuk tujuan berhias, jika dilakukan ke bagian atas kepala maka ini masuk ke dalam larangan, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam :
رؤوسهن كأسنمة البخت …“…kepala-kepala mereka seperti punuk unta…”, dan punuk itu adanya di atas…”
Sumber : “Liqo’ Bab al-Maftuh” kaset no. 161.

Fatwa Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah:

Pertanyaan :

لسائل: ما حكم جمع المرأة لشعرها فوق رَقَبَتِهَا وخلف رأسها بحيث يعطيشكلاً مكوراً مع العلم بأن المرأة حين تتحجب يظهر شكل الشعر من خلف الحجاب؟.

Apa hukum seorang wanita mengumpulkan (menggelung/sanggul) rambutnya di atas lehernya dan di belakang kepalanya yang membentuk benjolan sehingga ketika wanita itu memakai hijab, terlihat bentuk rambutnya dari belakang hijabnya?

Jawaban :

الشيخ: هذه خطيئة يقع فيها كثير من المتحجبات حيث يجْمَعْن شعورهن خلفرؤوسهن فَيَنْتُؤُ من خلفهن ولو وضعن الحجاب من فوق ذلك، فإن هذا يخالفشرطا من شروط الحجاب التي كنت جمعتها في كتابي حجاب المرأة المسلمة منالكتاب والسنة ومن هذه الشروط ألا يحجم الثوب عضوا أو شيئا من بدن المرأة،فلذلك فلا يجوز للمرأة أن تكور خلف رأسها أو في جانب من رأسها شعر الرأسبحيث أنه يَنْتُؤُ هكذا فيظهر للرأي ولو بدون قَصْدٍ أنها مشعرانية أو أنهاخفيفة الشعر يجب أن تسدله ولا تُكَوِمَهُ .

Ini adalah kesalahan yang terjadi pada banyak wanita yang memakai jilbab, dimana mereka mengumpulkan rambut-rambut mereka di belakang kepala mereka sehingga menonjol dari belakang kepalanya walaupun mereka memakai jilbab di atasnya. Sesungguhnya hal ini menyelisihi syarat hijab yang telah kukumpulkan dalam kitabku “Hijab al-Mar’ah al-Muslimah minal Kitab was Sunnah”.
Dan diantara syarat-syarat tersebut adalah pakaian mereka tidak membentuk bagian tubuh atau sesuatu dari tubuh wanita tersebut, oleh karena itu tidak boleh bagi seorang wanita menggelung rambutnya dibelakang kepalanya atau disampingnya yang akan menonjol seperti itu, sehingga tampaklah bagi penglihatan orang walaupun tanpa sengaja bahwa itu adalah rambut yang lebat atau pendek. Maka wajib untuk mengurainya dan tidak menumpuknya.

Sumber : “Silsilatul Huda wan Nur“.

 

Fatwa ‘Al-Lajnah Ad-Da’imah’ 2/27:

Pertanyaan:

” السؤال : هل يجوز أن نعتقد كفر النساء الكاسيات العاريات لقول النبي صلىالله عليه وسلم : ( لا يدخلن الجنة ولا يجدن ريحها ) الحديث ؟

 

Apakah boleh kita berkeyakinan tentang kafirnya para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam: “Mereka tidak masuk surga dan tidak mencium bau wanginya. Padahal bau wangi surga itu tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian waktu [jarak jauh sekali” (Al-Hadits)?.

والجواب :
يكفر من اعتقد حل ذلك منهن بعد البيان والتعريف بالحكم ، ومن لم تستحل ذلكمنهن ولكن خرجت كاسية عارية فهي غير كافرة ، لكنها مرتكبة لكبيرة من كبائرالذنوب ، ويجب الإقلاع عنها ، والتوبة منها إلى الله ، عسى أن يغفر اللهلها ، فإن ماتت على ذلك غير تائبة فهي تحت مشيئة الله كسائر أهل المعاصي ؛لقول الله عز وجل : ( إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِوَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ) ” انتهى.

Jawaban:

Siapa saja yang meyakini akan halalnya hal itu dari kalangan para wanita padahal telah dijelaskan kepadanya [kalau tidak halal] dan diberi pengertian tentang hukumnya, maka ia kafir.

Adapun yang tidak menghalalkan hal itu dari kalangan para wanita akan tetapi ia keluar rumah dalam keadaan berpakaian tapi telanjang, maka ia tidak kafir, akan tetapi ia terjerumus dalam dosa besar, yang harus melepaskan diri darinya dan taubat daripadanya kepada Allah, semoga Allah mengampuninya. Jika ia mati dalam keadaan belum bertaubat dari dosanya itu maka ia berada dalam kehendak Allah sebagaimana layaknya para ahli maksiat; sebagaimana firman Allah Azza Wa Jalla:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya”. (QS. An-Nisaa': 48). Selesai.Fatwa ‘Al-Lajnah Ad-Da’imah’ 2/27.

Kesimpulan:

Maksud dari hadits “kepala mereka seperti punuk onta”, adalah wanita yang menguncir atau menggulung rambutnya sehingga tampak sebuah benjolan di bagian belakang kepala dan tampak dari balik hijabnya .

Ancaman yang sangat keras bagi setiap wanita yang keluar rumah menonjolkan rambut yang tersembunyi di balik hijabnnya dengan ancaman tidak dapat mencium bau wangi surga, padahal bau wangi surga bisa dicium dari jarak yang sangat jauh.

Apabila telah ada ketetapan dari Allah baik berupa perintah atau pun larangan, maka seorang mukmin tidak perlu berpikir-pikir lagi atau mencari alternatif yang lain. Terima dengan sepenuh hati terhadap apa yang ditetapkan Allah tersebut dalam segala permasalahan hidup.

Dan tidakkah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” [QS. Al-Ahzab: 36 ]

 Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu ..”

[Q.S. Al Hujaraat : 15]

Kalau kita cermati dengan seksama maka akan jelas sekali bahwa saat ini banyak kaum wanita yang telah melakukan apa yang dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam dalam hadits tersebut, yaitu memakai jilbab yang dibentuk sehingga mirip punuk onta. Kalau berjilbab seperti ini saja tidak masuk surga, bagaimana pula yang tidak berjilbab?

Inti dari larangan dalam hadits tersebut adalah bertabarruj, yaitu keluar rumah dengan berdandan yang melanggar aturan syari’at dan berjilbab yang tidak benar sebagaimana firman Allah:

“dan hendaklah kamu tetap di rumahmudan janganlah kamu (bertabarruj) berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu“. (QS. Al-Ahzaab: 33).

Adapun ketika dirumah dan dihadapan suami, maka para isteri diperbolehkan berdandan dengan cara apa saja yang menarik hati suaminya, bahkan tanpa mengenakan sehelai kainpun juga boleh, tidak haram, bahkan berpahala.

Semoga jelas dan bermanfaat.