KIAT MENJAGA LISAN
-----------------------------
Tiada satu patah katapun yang kita ucapkan luput dari pendengaran
Allah. Tiada satu patah katapun yang diucapkan kecuali pasti memakan
waktu. Tiada satu patah katapun yang kita ucapkan kecuali dengan sangat
pasti harus kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Maka,
sebaik-baik dan seberuntung-beruntungnya manusia adalah orang yang
sangat mampu memperhitungkan dan memperhatikan setiap kata yang
diucapkannya. Sungguh, alangkah sangat beruntungnya orang yang menahan
setiap kata-kata yang diucapkannya, alangkah sangat beruntungnya orang
yang menahan diri dari kesia-siaan berkata dan menggantinya dengan
berdzikir kepada Allah.
Berkata sia-sia membuang waktu sedangkan
berpikir membuka pintu hikmah. Maka, alangkah beruntungnya orang yang
kuasa menahan lisannya dan menggantinya dengan berdzikir. Berkata
sia-sia mengundang bala, berdzikir kepada Allah mengundang rakhmat.
Rasulullah SAW bersabda, "Setiap ucapan Bani Adam itu membahayakan
dirinya (tidak memberi manfaat), kecuali kata-kata berupa amar ma'ruf
dan nahi munkar serta berdzikir kepada Allah azza wa Jalla (HR.
Turmudzi).
Setiap manusia diberi modal oleh Allah dalam
mengarungi kehidupan ini. Modalnya adalah waktu, dan
seberuntung-beruntungnya manusia adalah orang yang memanfaatkan waktunya
untuk keuntungan dunia dan akhiratnya, sedangkan sebodoh-bodohnya
manusia adalah orang yang menghambur-hamburkan modalnya (waktu) tanpa
guna.
Setiap kali kita berbicara pasti menggunakan modal kita,
yaitu waktu. Maka, sebenarnya kemuliaan dan kehormatan itu dapat dilihat
dari apa yang diucapkannya. Allah SWT berfirman :
"Amat sangat
beruntung, bahagia, sukses, orang yang khusu' dalam sholatnya, dan orang
yang berjuang dengan sungguh-sungguh menahan diri dari perbuatan dan
perkataan sia-sia." (QS Al Mu'minun 23: 1- 3), subhanallah.
Sahabat-sahabat sekalian, salah satu ciri martabat keislaman seseorang
itu bisa dilihat dari bagaimana ia berjuang keras untuk menghindarkan
dirinya dari kesia-siaan. Maka semakin kita larut dalam kesia-siaan
maka, akan semakin tampak keburukan martabat keislaman kita dan semakin
akrab dengan bala bencana, yang selanjutnya hati pun akan keras membatu
dan akan lalai dari kebenaran. Rasulullah sendiri dengan tegas melarang
kita banyak bicara yang sia-sia.
"Janganlah kamu sekalian
memperbanyak bicara selain berdzikir kepada Allah, sesungguhnya
memperbanyak perkataan tanpa dzikir kepada Allah akan mengeraskan hari,
dan sejauh-jauh manusia adalah yang hatinya keras." (HR. Turmudji)
Kita lihat banyak orang berbicara tapi ternyata tidak mulia dengan
kata-katanya. Banyak orang berkata tanpa bisa menjaga diri, padahal
kata-kata yang terucapkan harus selalu dipertanggung-jawabkan, yang
siapa tahu akan menyeretnya ke dalam kesulitan. Sebelum berkata, kita
yang menawan kata-kata, tapi sesudah kata terucapkan kitalah yang
ditawan kata-kata kita.
Rasulullah bersabda : " Barangsiapa
memperbanyak perkataan, maka akan jatuh dirinya. Maka barangsiapa jatuh
dirinya, maka akan banyak dosanya. Barangsiapa banyak dosanya, maka
nerakalah tempatnya". (HR. Abu Hatim).
Dari Sahl bin Sa'ad as Saidi, dia berkata:
"Barang siapa menjamin bagiku apa yang ada diantara dua tulang
rahangnya (lidah) dan yang ada diantara kedua kakinya (kemaluan),
niscaya akan aku jamin surga baginya."(HR. Bukhari).
Dalam hadits lain Rasulullah bersabada;
"Barangsiap menjaga dari kejahatan qabqabnya, dzabdzabnya, dan
laglagnya, niscaya ia akan terjaga dari kejahatan seluruhnya."(HR. Ad
Dailami) Yang dimaksud qabqab adalah perut, Dzaabdzab adalah kemaluan,
dan Laqlaq adalah lidah.
Maka tampaknya adalah menjadi wajib
bagi siapapun yang ingin membersihkan hatinya, mengangkat derajatnya
dalam pandangan Allah Ajjaa Wa Jallaa, ingin hidup lebih ringan
terhindar dari bala bencana, untuk bersungguh-sungguh menjaga lisannya.
Aktivitas berbicara bukanlah perkara panjang atau pendeknya, tapi
berbicara adalah perkara yang harus dipertanggungjawabkan dihadapan-Nya.
Ada sebuah kisah, suatu waktu ada seseorang bertanya tentang
suatu tempat yang ternyata tempat tersebut adalah tempat mangkal "wanita
tuna susila". "Dimana sih tempat x ?" Lalu si orang yang ditanya
menunjuk ke arah suatu tempat dan hanya dengan "Tuh !", lalu si penanya
datang ke sana dan naudzubillah dia berbuat maksiat, di pulang, lalu dia
sebarkan lagi kepada teman-temannya, lalu berbondong-bondong orang ke
sana, berganti hari, minggu, dan tahun. Maka setiap ada orang yang
bermaksiat di sana, orang yang menunjukkan itu memikul dosanya, padahal
dia hanya berkata : "Tuh !", cuman tiga huruf. Setiap hari orang berzina
di sana, maka pikul tuh dosanya, karena dia telah memberi jalan bagi
orang lain untuk bermaksiat dengan menunjukkan tempatnya.
Jadi
waspada, dengan lidah, menggerakkannya memang mudah, tidap perlu pakai
tenaga besar, tidak perlu pakai biaya mahal, tapi bencana bisa datang
kepada kita. Berbicara itu baik, tapi diam jauh lebih bermutu. Dan ada
yang lebih hebat dari diam, yaitu BERKATA BENAR.
"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam !" (HR. Bukhari Muslim).
Sebab lisanlah yang banyak memasukkan kita ke neraka. Rasulullah bersabda :
"Kebanyakan yang memasukkan ke neraka adalah dua lobang, yaitu : mulut
dan fardji (kemaluan)" (HR Turmudji dan Imam Ahmad). Sedangkan Imam
Hasan berkata bahwa, "Tidak akan berarti agama seseorang bagi orang yang
tidak menjaga lisannya".
: bahwa melanjutkan, Beliau "Baiknya
Islam seseorang adalah dengan meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat
baginya". Untuk dapat menjaga lisan menjadi terjaga dan bermutu, ada
empat syaratnya, yaitu :
1. Berkatalah dengan Perkataan yang Benar
Kalau kita ingin berbicara dengan benar, maka pastikan bahwa
pembicaraan kita bersih dari bohong, bersih dari dusta. Kata-kata kita
ini harus benar-benar dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Jangan
pernah mau berkata apapun yang kita sendiri tidak yakin dengan apa yang
kita katakan. Jangan berusaha berkata-kata semata-mata agar orang
terkesima, terpesona, suka, karena semuanya tidak akan menolong kita.
Perkataan kita yakin dengan seyakin-yakinnya haruslah dapat
dipertanggungjawabkan.
Bohong, dusta, sama sekali tidak akan
menolong diri kita ini, karena kedustaan mutlak diketahui oleh Alloh dan
sangat mudah bagi ALlah membeberkan segala kebohongan dan kedustaan
kita.
Dusta tidak akan mengangkat derajat, bahkan sebaliknya
kalau Allah membeberkan kebohongan kita, kedustaan kita, maka, kita akan
menjadi orang yang tidak berharga sedikitpun. Untuk dapat orang percaya
pada kita tidak bisa dibeli dengan uang, tidak bisa dibayar dengan
harta, sekali tampak bahwa kita pendusta, pembohong, tukang tipu, maka
akan butuh waktu yang sangat lama untuk mengembalikan kepercayaan orang
pada kita.
Dusta, bohong, hanya membuat hidup jadi sempit.
Camkan, bahwa semakin banyak kita berbohong, semakin sering kita
berdusta, maka kita telah membuat penjara, yang membuat kita selau takut
dusta kita terbuka, bahkan selanjutnya kita akan berusaha untuk membuat
dusta baru, bohong baru untuk menutupi kebohongan yang telah kita
lakukan.
Beranilah hidup tampil dengan apa adanya, biarlah kita
tampil begini adanya. Kenapa harus berdusta, lebih baik kita tidak
diterima, karena kita sudah mengatakan apa adanya daripada kita diterima
karena mendustainya. Jangan berat untuk tampil apa adanya. Daripada
kita sibuk merekayasa agar rekayasa kata, sangat pasti tidak akan
menolong sedikitpun "yu izzumantasyaa wa tudzillu man tasya" Yang
mengangkat derajat bukan kebohongan, bukan rekayasa kita, tapi Allah
saja, dan sebaliknya yang menghinakan juga Allah.
Cegahlah dusta
walau sekecil apapun, kecuali tentunya bohong yang dibenarkan oleh
syariat. Misalnya, bohong dalam rangka bersiasat kepada musuh, bohong
ringan dengan maksud untuk mendamaikan orang-orang yang bersengketa demi
kebaikan. Bohong istri kepada suami atau sebaliknya dengan maksud untuk
menyembunyikan kejelekan, bohong untuk membahagiakan dengan cara yang
sah dan benar, tetapi bukan bohong untuk menyembunyikan aib dan
kesalahan.
Sahabat-sahabat sekalian, Berpikirlah sebelum
berbicara. Jangan pernah biarkan terlontar dari lisan ini sesuatu yang
kita sendiri meragukannya. Apalagi dengan sengaja kita berkata dusta,
naudzubillah. Demi Allah, Allah Maha Mendengar, tahu persis segala nita
di balik kata yang kita ucapkan. Kedustaan kita hanya masalah waktu saja
bagi Allah untuk membeberkannya, walau mati-matian kita menutupinya.
Maka, pastikan setiap pembicaraan kita untuk tidak ada dusta, walau
sedikitpun.
Firman-Nya,
"Hai orang-orang yang beriman,
bertaqwalah kamu kepada Allah dan berkatalah dengan perkataan yang
benar". (QS Al Baqarah:263) Cukuplah ayat ini sebagai dalil bagi
hamba-hamba-Nya untuk selalu menyampaikan kebenaran.
Selalulah mohon kepada Allah agar lisan ini dituntun dan dilindungi sehingga terhindar dari perkataan yang tidak benar.
2. Berkatalah sesuai tempatnya
"Liqulli maqaam maqaal walikulli maqaal maqaam" Artinya, "Tiap
perkataan itu ada tempat terbaik dan setiap tempat memiliki perkataan
(yang terucap) yang terbaik pula."
Tidak setiap kata sesuai di
setiap tempat, sebaliknya tidak setiap tempat sesuai dengan perkataan
yang dibutuhkan. Hati-hati sebelum kita bicara, harus kita ukur siapa
yang diajak bicara. Berbicara dengan anak kecil tentu akan jauh beda
dengan ketika berbicara dengan orang tua. Berbicara dengan remaja tentu
akan jauh beda dengan ketika berbicara dengan guru kita. Orang yang
tidak terampil untuk membaca situasi, walau niatnya benar, hasilnya bisa
jadi kurang benar.
Lihatlah misalnya, ketika kita berbincang
dengan ponakan yang masih kecil, betapa kita akan berusaha menyesuaikan
diri dengan dunianya, gerakan tangan kita, raut muka kita. Hal ini
karena dia tidak akan mengerti kalau kita menggunakan gaya bahasa orang
tua. Tapi tidak mungkin kita memperlakukan guru kita dengan cara yang
sama seperti kala kita berbicara kepada keponakan kita.
Oleh
karena itu, niat untuk berdakwah dengan mengetahui dalil-dalil Quran,
memahami dan mengetahui banyak hadist, belumlah cukup. Sebab kalau kita
berbicara tanpa cara yang tepat, misalnya dengan mengobral dalil,
menunjukkan banyaknya hafalan saja, tidaklah cukup.
Dalam
situasi orang berkumpul pasti punya kondisi mental yang berbeda, ada
orang yang sedang gembira, yang tentu saja akan berbeda daya tangkapnya
dengan yang sedang nestapa. Ada orang yang sedang menikmati
kesuksesannya, dan tentu saja akan berbeda dengan orang yang sedang
dilanda masalah dalam hidupnya. Oleh karena itu orang yang sehat berbeda
kemampuan menangkap idenya, dengan orang yang sedang sakit, orang yang
sedang segar bugar, ceria berbeda kemampuan memahaminya dengan orang
sudah letih lahir batinnya. Maka seseorang pembicara terbaik tidak cukup
hanya berbica benar, tapi juga harus sangat bisa memilih situasi kapan
dia berbicara.
Mengapa banyak nasehat orang tua yang tidak
didengar oleh anaknya yang masih remaja? Saya khawatir orang tua merasa
benar dengan apa yang dikatakannya, tapi tidak benar dalam membaca
situasi dan kondisi remaja yang sedang diajak bicara, yang notabene
kondisinya sedang labil. Memang aneh kita ini ketika anak masih kecil,
orang tua akan berusaha beraktivitas, bersikap, dan berbicara agar dapat
dipahami oleh si kecil, tetapi menjelang remaja, pada saat perpindahan
usia, perpindahan masa, ia tidak berusaha beradaptasi dengan kondisi
anaknya. maka disinilah kita perlu ilmu. Sebab dengan ilmu yang memadai
setiap orang dapat berwibawa di depan anak-anaknya.
Subhaanallah,
Ada banyak cara dalam berkomunikasi, dan berbahagialah jikalau kita
diberi keterampilan oleh Allah untuk berbicara sesuai dengan kondisi dan
tempatnya. Kita berdialog dengan petani, tentu saja berbeda dialognya
dengan seorang eksekutif. Berada di lingkungan santri yang fasih bahasa
Arab, tentu saja berbeda kalau kita harus berdialog dengan orang di
pasar yang tidak mengerti bahasa Arab. Seorang pendakwah misalnya, kalau
orangnya tidak arif, ia akan sibuk mengobral dalil, mengobral
kata-kata, walau tentu saja tidak semuanya salah, tapi apalah artinya
jika kita meletakkan sesuatu tidak sesuai tempatnya.
Pernah
terjadi suatu ketika Umar bin Khathab bertemu dengan Abu Hurairah, "Mau
pergi kemana engkau, hei Abu Hurairah?" Tanya Umar
"Aku mau ke
pasar, akan aku umumkan apa yang kudengar dari Rasulullah SAW," Jawab
Abu Hurairah. "Apa kata Beliau ?", Umar bertanya lagi "Setiap orang yang
mengucapkan Laa Ilaaha Illallah, maka dakhalal Jannah, akan masuk
Surga". "Tunggu dulu, wahai sahabat", cegah Umar. Umar bin Khathab pun
kemudian pergi menemui Rasulullah. "Yaa Rasulullah, apakah benar engkau
bersabda demikian (sebagaimana yang disampaikan oleh Abu Hurairah)?"
Tanyanya. Dan Rasul pun meng-iya-kan. "Tetapi, Yaa Rasul, saya keberatan
kalau sabdamu itu disebarkan kepada sembarang orang karena dikuatirkan
akan salah dalam menafsirkannya."
Mendengar keberatan Umar itu,
Rasul tercenung, lalu sesaat kemudian bersabda, "Yaa, aku setuju dengan
pendapatmu". Abu Hurairah pun lalu dilarang untuk mengumumkannya di
pasar.
Demikianlah, perkataannya benar, sesuai dengan kenyataan.
Akan tetapi, karena dikuatirkan akan salah penafsiran orang yang
mendengarnya, karena diucapkan tidak pada tempatnya.
3). Jagalah Kehalusan Tutur Kata
Orang yang lisannya bermutu haruslah berkemampuan memperhalus dan
menjaga kata-katanya tidak menjadi duri atau tidak bagai pisau silet
yang siap melukai orang lain. Betapa banyak kata-kata yang keluar yang
rasa-rasanya ketika mengeluarkannya begitu gampang, begitu enak, tapi
yang mendengar malah sebaliknya, hatinya tercabik-cabik, tersayat-sayat
perasaannya, begitu perih dan luka tertancap dihatinya. Seakan memberi
nasehat, tapi bagi yang mendengar apakah merasa dinasehati atau malah
merasa dizhalimi.
Hati-hati, ibu kepada anak, suami kepada
istri, istri kepada suami, guru kepad murid, atasan kepada bawahan.
Kadang kelihatannya seperti sedang memberi nasehat tetapi sesungguhnya
kalau tidak hati-hati dalam memilih kata, justru kita sedang mengumbar
duri-duri pisau 'cutter' yang tajam mengiris.
Rasulullah
bersabda, "Jiwa seorang mukmin bukanlah pencela, pengutuk, pembuat
perbuatan keji dan berlidah kotor" (HR. Turmudji dan Ibnu Mas'ud).
Bahkan bagi orang kafir sekalipun, Nabi melarang mencelanya. Dikisahkan
bahwa ketika beberapa orang kafir terbunuh dalam perang Badar, Nabi
bersabda :
"Janganlah kamu memaki mereka, dari apa yang kamu
katakan, dan kamu menyakiti orang-orang yang hidup. Ketahuilah bahwa
kekotoran lidah itu tercela" (HR. An Nasai)
Sahabat-sahabat
kalau kita berbuat salah, kita begitu rindu orang lain bersifat bijak
kepada kita dengan memberi maaf. Kala kita tak sengaja memecahkan piring
atau melakukan kesalahan sehingga TV rusak atau kita naik motor agak
lalai sehingga menabrak atau masuk got. Maka apa yang kita inginkan ?
Yang kita inginkan dari orang lain adalah dia dapat bijaksana kepada
kita. "Innaalillaahi wa innaailaihi raaji'uun" "Lain kali lebih
hati-hati, jadikan ini pelajaran yang baik, bertaubatlah". Demikian
kata-kata bijak yang kita harapkan. Sebab sangat pasti akan selalu ada
kesempatan kita untuk berbuat kesalahan.
Dikala itu, jika orang
menyikapi dengan baik, kita diberi semangat untuk bertaubat, semangat
untuk mempertanggungjawabkan, kita tidak dicela, kita tidak
dipermalukan, maka yang terjadi adalah semangat kita untuk
mempertanggungjawabkannya menjadi lebih besar.
Bandingkan dengan
kalau kita melakukan suatu kesalahan, lalu orang lain marah kepada
kita, "Diam disini, ini perhatikan ! Dasar anak dungu, tidak hati-hati,
begitu sering membuat kesalahan, kemarin ini, sekarang itu. Ini adalah
kelakuan yang sangat menyebalkan, dia pengacau di tempat kita, dia
adalah orang yang paling merugikan". Bayangkan perasaan kita, yang
terjadi adalah merasa dipermalukan, merasa dicabik-cabik, merasa
dihantam, merasa diremukkan, harga diri kita benar-benar diinjak-injak.
Saya kira kata-kata itu tidak akan masuk ke dalam kalbu, kecuali dendam
yang akan merasuk.
Diriwayatkan bahwa suatu waktu, seorang Arab
Badwi bertemu Rasulullah SAW, dan Rasulullah berkata : "Engkau harus
bertakwa kepada Allah, Jika seseorang membikin malu padamu, dengan
sesuatu yang diketahuinya padamu, maka janganlah memberi malu dia dengan
sesuatu yang engkau ketahui padanya. Niscaya akan celaka padanya dan
pahalanya padamu. Dan janganlah engkau memaki sesuatu !" (HR.
Bukhari-Muslim)
Dalam Hadist lain Rasulullah SAW bersabda,
"Bahwa yang pertama-tama diberitahukan Tuhan kepadaku dan dilarang aku
daripadanya sesudah penyembahan berhala dan minum khamar, ialah mencaci
orang". (HR. Ibu Abi Dunya).
Sungguh kalau kita tidak suka
dipermalukan, tidak suka disakiti, tidak suka direndahkan, mengapa
kata-kata kita sering mempermalukan, merendahkan, menghinakan orang
lain? Padahal, sebaik-baiknya kata adalah yang mengoreksi, yang dapat
meraba perasaan diri sendiri dan orang lain kalau misalnya kita
diperlakukan seperti itu. "Duh, dengan kata-kata ini dia terluka atau
tidak, dengan kata-kata ini dia tersakiti atau tidak ?"
Manfaat
tidak kalau misalnya ada yang shaum, lalu ditanya shaum atau tidak,
makin kita tanya, "Saudara shaum atau tidak?" Padahal dia sedang
berusaha menyembunyikan amalnya, terpaksa harus bicara. Kalau menjawab
"Ya, Saya Shaum", terbersit peluang untuk riya. Kalau menjawab, "Tidak",
jadi dosa karena berdusta. Kalau diam saja takut disangka sombong.
Maka, kita telah menyusahkan orang gara-gara pertanyaan kita.
Saudara-saudara sekalian, sudahlah jangan banyak tanya yang kira-kira
tidak bermanfaat bahkan menjadi beban bagi yang ditanya. Jangan pernah
berkata yang membuat orang lain jadi susah, kita juga tidak mau
disusahkan oleh perkataan orang lain. Kalau disuruh memilih, mending
diajak bicara yang kasar atau yang halus ? Tentu kita akan memilih
berbicara dengan bahasa yang halus.
Firmannya, "Hai orang-orang
yang beriman! Janganlah segolongan laki-laki menghina segolongan yang
lain, boleh jadi (mereka yang dihina itu) lebih baik dari mereka (yang
menghina). Dan janganlah segolongan perempuan (menghina) golongan
perempuan yang lainnya, boleh jadi (yang dihina) lebih baik dari mereka
(yang menghina)." (QS. Al Hujurat 49:11).
Rasulullah juga bersabda,
"Demi Allah Aku tidak suka menceritakan tentang seseorang". (HR. Abu
Daud dan Turmudji). Jangan pula menasehatkan apa yang tidak pernah kita
lakukan, sebab firman-Nya: "Hai, orang-orang yang beriman, mengapa
engkau berkata-kata sesuatu yang tidak engkau perbuat. Sesungguhnya amat
besar kemurkaan Allah terhadap orang yang berkata tapi tidak
melakukannya." (QS. Ash Shaff 61: 2-3)
Maka, mulai sekarang,
jagalah lisan kita, banyaklah berbuat daripada berkata, atau banyaklah
berkata dengan perbuatan daripada banyak berkata tanpa ada perbuatan.
Kita tidak akan terhormat oleh banyak berbicara sia-sia, kehormatan kita
adalah dengan berkata benar atau diam.
Gelas yang kosong hanya
diisi dengan air, tapi mata air yang melimpah airnya bisa mengisi wadah
apapun. Artinya, orang yang kosong harga dirinya hanya ingin dihargai,
tapi orang yang melimpah harga dirinya akan senang menghargai orang
lain.
Pastikan gaya bicara kita jangan merendahkan orang lain,
karena diri kita ingin dihargai, hal itu justru menunjukkan kerendahan
diri kita. Karena mulut itu bagai moncong teko, hanya mengeluarkan isi
teko, di dalam kopi keluar kopi, di dalam teh keluar teh, di dalam
bening keluar bening. Maka berbahagialah bagi yang ucapannya keluar dari
mulutnya bagai untaian kalung mutiara, yang niscaya ia akan merasakan
betapa indah dan berkilau indahnya. Kalau pembicaraan bagai untaian
perhiasan harganya, insyaallah hatinya akan berharga pula. Tapi kalau
mulutnya bagai keranjang sampah tumpah, maka hatinya akan tak jauh pula.
Untuk dapat menjaga lisan menjadi terjaga dan bermutu, ada empat syaratnya yaitu:
1. Berkatalah dengan perkataan yang benar
2. Berkatalah sesuai tempatnya
3. Jagalah kehalusan tutur kata
4. Berkatalah yang bermanfaat
Pastikan setiap kata-kata yang keluar dari mulut kita itu full manfaat.
Rasulullah bersabda, "Diantara tanda kebaikan akhlak manusia muslim
adalah meninggalkan apa yang tidak perlu" (HR. Turmudji).
Dalam
riwayat lain disebutkan bahwa, Nabi SAQ kehilangan Ka'ab bin Ajrah. Lalu
beliau tanyakan kemana Ka'ab sekarang. Mereka menjawab: "Beliau sakit,
yaa Rasulullah". Lalu Nabi keluar berjalan, sehingga sampai pada Ka'ab,
Lalu beliau bersabda : "Gembiralah wahai Ka'ab", Lalu Nabi bertanya :
"Siapakah wanita yang bersumpah ini kepada Allah ?" Ka'ab menjawab :
"Ibuku, wahai Rasulullah" Lalu Nabi menyahut : "Apakah yang
diberitahukan kepada engkau wahai Ummu Ka'ab ?" Ibunya Ka'ab menjawab :
"Mungkin Ka'ab berkata perkataan yang tidak perlu atau tidak berkata
yang diperlukan". (HR. Ibnu Abi Dunya)
Maka, satu-satunya
pilihan adalah berkata yang penuh manfaat. Ketika tiba-tiba hujan,
"Huuh, hujan !" Lho, apa untungnya berkata begitu, apa dengan berkata
begitu hujannya jadi berhenti ? Tidak kan...? Hujan adalah pekerjaan
Allah, suka-suka Allah mau ngasih hujan atau tidak, yang pasti setiap
perbuatan Allah itu bermanfaat buat orang beriman. Apa salahnya Allah
menurunkan hujan, dulu waktu kemarau panjang mengeluh, di kasih hujan
masih mengeluh juga.
Suatu ketika pernah duduk dengan seorang
ulama yang terpelihara, "Aduh, jam tangan ketinggalan !" Tiba-tiba saya
ingat, bahwa jam saya ketinggalan. "Kenapa pakai aduh ? Lebih bermanfaat
kalau mengucapkan innaalillaahi, lupa nih ketinggalan jam,
mudah-mudahan dapat diambil di waktu yang tepat".
Sahabat-sahabat sekalian, jangan bunyi kecuali yang bermanfaat. Jangan
pula mencela perbuatan Allah. Panas, dingin, hujan atau kemarau, dengan
panas yang membakar sekalipun, jangan mencela. Atau tiba-tiba petir
mengelegar, kenapa menjerit ....?
Bukannya malah menyebut nama
Allah. Atau tiba-tiba menginjak bangkai, "Hiii bangkai anjing sialan !"
Kenapa harus mencaci, tidak usah mencela, beristighfarlah, sebab Allah
memberikan kejadian, sangat pasti ada hikmahnya.
4. Berkatalah yang Bermanfaat
Dikisahkan bahwa suatu waktu Nabi Isa, as, melihat bangkai seekor
anjing, ketika sahabat-sahabatnya berpaling karena jijik, maka Nabi Isa
justru melihat susunan gigi putihnya yang tertata indah,
"Anjing
itu giginya rapi sekali yaa...!", Teman-temannya keheranan. "Yaa,
Rabbii (Guru), kenapa Paduka berkata begitu, bangkai anjing itu kan
sangat menjijikkan. Bahkan Paduka sendiri kalau dihina, dicaci,
diremehkan dengan kata-kata jelek, kata-kata Tuan selalu baik ?"
Nabi Isa Menjawab:
"Karena setiap orang memang akan mengeluarkan apa yang dimilikinya.
Kalau pikiran dan perasaannya jelek, maka yang keluar adalah yang
jelek-jelek juga", Demikian jawabnya. Makin banyak kepeleset lidah,
makin banyak masalah dan dosanya, makin banyak dosa, nerakalah
tempatnya. Maka, "Fal yakul khairan au liyasmut", "Berkatalah yang benar
atau diam", Demikian Sabda Nabi. Jangan sekali-kali mencela makanan
yang sudah tersaji di depan mata. "Huuh, ini mah terlalu asin !" Kalau
nggak suka kasikan kepada makhluk lain yang lebih membutuhkan. Ada
makanan terlalu dingin, yaa hangatkan ! Jangan mengeluh, jangan mencela.
Sebab sudah dikasih makan saja oleh Allah sudah untung.
Mencela
atau mengutuk bukanlah akhlak seorang muslim. Rasulullah bersabda,
"Orang Mukmin itu bukan type pengutuk" (HR. Turmudji). Dalam Hadits lain
Nabi SAW bersabda, "Janganlah Kamu kutuk-mengutuk dengan kutukan ALLAH,
dengan kemarahan-NYa, dan dengan neraka Jahannam". (HR. Abu Dawud dan
Turmudji)
Pernah suatu waktu ketika di tanah suci, ada seorang
jemaah haji ikhwan yang suatu waktu ia mendapat jatah makanannya dingin
dan keras. Maka, mengeluhlah dia, "Huuh, susah di Arab ini, masa nasi
aja sebegini keras." Gerutunya tanpa henti. Seseorang kemudian
menasehatinya, "Pak, kalau Bapak semakin mengeluh, mencela, Bapak akan
semakin sengsara, menderita. Karena yang memberi makan adalah ALLAH, ada
kalanya Allah menguji dengan makanan yang enak dan lezat, ada kalanya
pula Allah menguji dengan makanan yang tidak enak atau mungkin dengan
makanan yang sudah basi. Kenapa ketika sekali ini makanan kita tidak
enak, lalu kita sibuk mencaci, mencela, yang tidak akan menyelesaikan
masalah, bahkan justru mengundang murka Allah "
Padahal di
Mekkah lamanya 40 hari, 40 x 3 = 120 kali, dan makan yang enggak enak
ini cuma satu kali, maka tidak adik dia, zhalim dia. Sahabat-sahabat
sekalian berhentilah mencela. Lihat orang berbibir tebal, sudahlah
jangan mencela, toh bibik kita dan bibir dia, ALLAH juga yang
menciptakan. Seseorang yang matanya sipit, tidak berarti kita harus
mengatakan "betapa sempitnya dunia bagi dia". Dia sama sekali tidak
memiliki matanya, Allah-lah yang menciptakannya. Apakah kita akan
mencela ciptaan Allah ?
Padahal olok-olok, penghinaan, dan
pencelaan akan menyulitkan kita di akhirat kelak. Nabi SAW bersabda,
"Sesungguhnya orang-orang yang memperolok-olok manusia itu, dibukakan
pintu surga bagi salah seorang dari mereka. Lalu dikatakan kepadanya,
"Mari, marilah!" Lalu orang yang memperolok-olokan itu datang dengan
kesusahan dan kegundahannya. Ketika ia datang ke pintu surga itu, lalu
pintu surga itu terkunci buat dia. Maka terus menerus seperti yang
demikian, sehingga pintu itu dibukakan bagi orang tersebut, lalu
dikatakan kepadanya. "Mari, Marilah!", Maka ia tidak datang lagi ke
pintu itu". (HR. Ibnu Abi Dunya).
Maka pastikan, dari mulut kita
tidak keluar kata-kata penghinaan, pencelaan, olok-olok, dan yang
sejenisnya. Pokoknya kalau enggak perlu-perlu amat, jangan bunyi. Wah,
kalau begitu nanti dunia ini sepi dong...
Lho bicara itu tidak
selalu harus pakai mulut, senyum ramah, duduk dengan penuh perhatian,
santun, ini sudah bicara. Cara menunjuk, cara bersila, bagaimana kita
bersikap terhadap pembicaraan orang lain. Itu semua sudah merupakan
ribuan kata, bahkan jutaan kata.
Ingatlah bahwa syarat istiqomahnya
hati di jalan ALLAH adalah istiqomahnya lisan. Sabda Nabi SAW, bahwa
"Tidak akan istiqomah iman seseorang sebelum istiqamah hatinya, dan
tidak akan istiqomah hatinya sebelum istiqamah lisannya". (HR. Ahmad)
Subhanallah, maka marilah mulai sekarang kita menjaga dan mengelola
lisan kita dengan hanya digunakan sesuai dengan petunjuk Allah dan
Rasul-Nya.