Seperti biasa, matahari terbit di waktu pagi lalu terbenam di senja
hari, dan sehari pun berlalu, namun ada pertanyaan baru yang patut untuk
kita renungi, “Apa yang kita kerjakan untuk mengisi hari itu?” Berapa
banyak hari yang berlalu, berapa banyak umur telah kita lewati, namun
sedikit di antara kita yang menghitung diri, menjinakkan nafsu dengan
cambuk muhasabah. Bahkan kebanyakan manusia membiarkan hari-harinya
lewat, sedangkan dia tenggelam di dalam lautan kelalaian dan gelombang
panjang angan-angan.
Ketika fajar menyingsing, banyak manusia
yang menyambut hari mereka dengan niat yang tidak lurus. Setelah sehari
terlewatkan, ketika malam menjelang, mereka kembali menuju kasur-kasur
mereka dengan niat yang tiada beda pula. Seorang bijak ditanya, "Dengan
niat apakah seseorang bangun dari tempat tidurnya? Maka dia menjawab,
"Jangan kau tanya tentang bangunnya dulu, sehingga diketahui bagaimana
dia itu tidur. Barangsiapa yang tidak tahu bagaimana dia tidur, maka
tidak tahu bagaimana dia bangun."
Wahai saudaraku, perhatikan
matahari yang terbit dan tenggelam. Sudahkah kau renungkan harimu yang
kau lalui? Tanyakan! Apa yang sudah kupersembahkan untuk kebaikan, apa
kah yang kuperbuat ini untuk menyam-but hari-hariku? Amat banyak manusia
yang tidak memiliki perhatian terhadap berlalunya waktu, padahal
nafasmu wahai anak Adam, adalah sesuatu yang dihitung dan tertulis.
“Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang
bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka
berkata, "Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan
yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya;
dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada tertulis. Dan
Rabbmu tidak menganiaya seorang jua pun". (al-Kahfi : 49)
Dan juga firman-Nya, artinya,
“Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi
(pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat
(pekerjaan-peker-jaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan”
(al-Infithar:10-12)
Nafas-nafas terhitung, amal-amal tertulis!
Andaikan orang-orang yang lalai mau memikirkan ini semua, tentu mereka
akan hati-hati terhadap diri mereka dan akan manahan diri dari jalan
yang menyimpang. Namun amat sedikit manusia yang mandapat taufik, dan
amat sedikit di antara mereka yang mau mengetahui jalan yang lurus.
Seorang bijak berkata, "Ketika pagi hari, maka selayaknya seseorang
berniat untuk empat hal: Pertama melaksanakan apa yang diwajibkan Allah
atasnya; Kedua, menjauhi apa saja yang Dia larang; Ketiga berlaku adil
antara dirinya dengan orang lain yang ada hubungan muamalah; Keempat
memperbaiki hubungan (ishlah) dengan orang yang memusuhinya. Jika dia
menyongsong pagi dengan niat-niat ini, maka aku berharap dia termasuk
orang shalih yang beruntung."
Wahai Saudaraku! Untaian kalimat
di atas memuat berbagai macam pintu kebaikan, maka orang yang melakukan-
nya berarti telah mendapatkan taufiq dan bimbingan untuk meniti jalan
yang benar. Marilah kita renungkan, mari kita pikirkan, apakah diri kita
termasuk orang-yang demikian? Jika jawabannya "iya" maka
banyak-banyaklah memuji Allah Ta'ala dan mohonlah tambahan dari
keutamaan-Nya dan ketetapan hati untuk menetapi hal itu. Jika jawabannya
"tidak" atau "belum", maka lihat dan koreksi kembali diri kita sebelum
hilang seluruh kesempatan. Bersegera lah memperbaiki segala urusan,
mohon kepada Allah taufiq untuk dapat menempuh jalan kesuksesan.
Janganlah anda keluar dari rumah di pagi hari, kecuali untuk sesuatu
kebaikan yang diridhai oleh Tuhanmu. Sungguh merugi, sungguh celaka
mereka yang melewati hari-harinya dengan sia-sia, bukan dengan
mela-kukan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla. Ketika matahari bersinar
di siang hari, mereka melewati dengan kemak-siatan dan ketika dia
terbenam, mereka mengakhiri hari itu dengan kemaksiatan pula. Hari kita
adalah umur kita, jika telah lewat sehari, maka semakin dekat jalan
kematian yang akan kita tuju. Dan bila maut benar-benar telah datang,
maka habis sudah-harimu itu.
Muhammad bin Wasi' Rahimahullaah
pernah ditanya, "Bagaimana anda di pagi hari ini?” Maka beliau mejawab,
"Apa pendapatmu tentang seseorang yang akan berjalan menuju akhirat
setiap hari satu perjalanan?”
Dawud ath-Tha'i Rahimahullaah juga
mengata- kan, "Malam dan siang tak lain hanya sekedar perjalanan yang
pasti dilewati oleh seluruh manusia, sehingga hari-hari itu habis mereka
lewati sampai akhir perjalanan. Jika engkau mampu menyiapkan bekal pada
setiap harinya untuk perjalanan yang akan datang (akhirat), maka
lakukan itu. Karena terputusnya perjalanan sudah dekat, sedang urusan
lebih cepat dari itu. Berbekallah untuk perjalananmu, dan selesaikan
urusan yang dapat kau selesaikan, seakan-akan urusan itu selalu
mengagetkanmu.”
Demikianlah orang sholeh mema-hami betapa
berartinya waktu dan umur. Mereka berusaha sekuat tenaga menghabiskan
hari-harinya di dalam ketaatan kepada Allah. Maka sepantas-nya setiap
orang yang berakal meng-hitung dirinya, lalu mengarahkannya menuju jalan
ketaatan. Demikian setiap hari ketika menyambut pagi hari yang baru.
Ketika menuju pembaring-an di malam hari hendaknya mengu-lang lagi
muhasabah itu dan terus bertanya kepada diri sendiri.
Al-Mawardi
Rahimahullaah memberitahukan kepada kita, bagaimana cara melakukan
muhasabah; Yaitu dengan melihat kembali pada waktu malam, lembaran yang
telah dilewati sepanjang siang hari, karena waktu malam lebih dapat
mengingat apa yang terlintas dalam benak, lebih berkonsentrasi dalam
berfikir. Jika yang telah dilalui adalah terpuji, maka biarkan dia
lewat, lalu ikuti dengan yang serupa dan sebanding dengannya. Jika
merupakan perbuatan tercela, maka susul dengan kebaikan jika mungkin,
dan berhentilah dari perbuatan seperti itu di hari yang akan datang.”
Ibnu Umar Radhiallaahu anhu ketika beliau ketinggalan shalat berjama'ah
suatu malam, kemudian terlambat shalat Maghrib pada suatu petang,
sehingga bintang-bintang sudah tampak, maka beliau menebus dengan
memerdekakan dua budak.
Telah berkata Sa'id bin Jubair, "Seluruh hari yang dilalui oleh seorang mukmin adalah harta rampasan!”
Dan itu benar, bahwa seluruh hari-hari kita adalah ghanimah karena
merupakan kesempatan emas untuk berbekal dengan kebaikan, menumpuk
berbagai amal shaleh, kesempatan untuk bertaubat dan kembali kepada
Allah Subhannahu wa Ta'ala. Namun sangat sedikit orang yang mau memahami
dan mengambil manfaat dari hari-hari mereka.
Anda akan melihat
sebagian besar manusia terlena berjam-jam dalam setiap hari. Mereka
bahkan terlena pada sebagian besar hari-hari yang begitu banyak. Maka
berlalu hari demi hari, umur pun semakin habis sedang mereka tetap dalam
kelalaian. Dunia dan segala angan-angan telah membuat mereka terbuai.
Kemewahan dan kemegahan menghalangi mereka dari jalan yang lurus.
Syaitan terus mengu-lur kan tali angan-angan yang penjang tanpa batas,
Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman, artinya,
“Sesungguhnya
orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk
itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat
dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka.” (QS. 47:25)
Berkata
al-Hasan al Bashri, "Syai-tan menghiasi di mata mereka berbagai macam
dosa, lalu mengulur-ulur mereka di dalam angan-angan yang panjang."
Berkata pula Al Hafizh Ibnu Hajar, "Panjang angan-angan akan melahirkan
rasa malas mengerjakan ketaatan, menunda-nunda taubat, cinta dunia,
melupakan akhirat serta kerasnya hati. Karena kelembutan dan kebeningan
hati, hanya akan diraih dengan meng-ingat mati, kubur, pahala, siksa
serta huru hara di Hari Kiamat sebagaimana difirmankan Allah Subhannahu
wa Ta'ala, artinya,
“Kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras.” (QS. 57:16)
Manusia yang berakal adalah dia yang menjadikan dunia ini sebagai
ladang untuk akhirat, menanam dan menyirami dengan berbagai amal shaleh
agar dapat memetik buahnya kelak di akhirat. Hari di mana manusia tidak
mendapatkan apa-apa kecuali apa yang telah diperbuatnya berupa kebaikan
maupun keburukan.
Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam
bersabda, artinya, “Segera kalian susul dengan amal berbagai fitnah yang
seperti potongan malam yang gulita. Seseorang beriman di pagi hari lalu
kafir di sore hari, atau beriman di sore hari dan menjadi kafir di pagi
hari.”
Wahai saudaraku, apa yang telah engkau persiapkan untuk
menyambut suatu hari, dimana engkau sendirian di dalam kubur. Apakah
selama ini engkau termasuk orang yang terlena dengan angan-angan yang
panjang atau kah termasuk orang yang menggunakan bashirah (pandangan
yang jernih) yang beramal untuk hari esok ?
Maka segeralah
berintrospeksi, menghitung diri, karena dunia adalah Darul Ghurur
(tempat yang memper-daya), pasti akan ditinggalkan. Tidak ada yang
terlena, kecuali orang jahil. Untuk itu perhatikan kiat-kiatnya sbb :
Ketika pagi mulailah hari dengan berdzikir kepada Allah Subhannahu wa
Ta'ala, sebagai mana diajarkan Nabi Shalallaahu alaihi wasalam, serta
jangan lupa membaca do’a pagi hari.
Sambutlah hari itu dengan
niat yang benar, berazam melakukan ketaatan, menjauhi segala maksiat
serta memohon kepada Allah taufik dalam jalan yang diridhai.
Jangan melupakan dzikir kepada Allah dan jangan biarkan hari berlalu tanpa ada dzikrullah.
Kerjakan shalat fardhu lima waktu, di mana pun anda berada.
Tahanlah tanganmu dari mengganggu sesama muslim, sayangi orang yang lemah dan ajari mereka yang tidak tahu.
Tersenyum di hadapan saudara sesama muslim adalah shadaqah.
Berilah nasihat kepada sesama muslim, jangan biarkan mereka terjerumus dalam dosa.
Senang jika sesama muslim mendapatkan kebaikan, sebagaimana anda senang jika mendapatkannya.
Jangan sepelekan perbuatan baik walau hanya perkara kecil dalam pandangan anda.
Jika ada kesempatan bertaqarrub kepada Allah, maka jangan sia-siakan.
Bergegaslah mengumpulkan kebaikan sebagaimana anda senang jika harta anda terkumpul.
Jauhilah perkara-perkara syubhat, selamatkan agama anda dari segala yang merusaknya.
Jauhkan diri anda dari segala bentuk kemaksiatan, atau segala sesuatu yang mengantarkan kepadanya.
Jadikan seluruh niat anda adalah untuk kebaikan, amal shaleh dan
menjauhi segala yang haram. Karena barangsiapa berniat dengan kebaikan,
maka dia mendapatkan pahala kebaikan itu.
Pintu kebaikan amatlah
banyak tak berbilang. Apa yang tersebut di atas hanya sebagai pengingat
saja. Orang yang menjadikan hari-harinya penuh dengan kebahagiaan ,
kebaikan dan ketaatan, maka dialah orang yang telah mendapatkan taufik.
Wallahu a’lam.
Sumber: Buku “Kaifa Tastaqbil Yaumak”, Azhari Ahmad Mahmud, Dar Ibn Khuzaimah, Riyadh.(Ibnu Djawari)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar